MUI dan Kemenpar Dorong Biro Wisata Halal di Indonesia Terus Bertambah

gomuslim.co.id- Berkembangnya industri halal saat ini menjadi peluang besar bagi para pelaku usaha Indonesia untuk semakin maju. Apalagi tahun lalu Indonesia telah meraih gelar sebagai jawara World Halal Tourism Award (WHTA). Salah satu untuk mendukung wisata halal ini adalah dengan ditambahnya biro perjalanan halal.

Demikian disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal (UU JPH), pada 2019 semua produk harus bersertifikasi halal. Dalam wisata halal, MUI sudah mensertifikasi biro perjalanan, hotel, spa, dan restoran.

“Untuk itu kami dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong supaya biro perjalanan halal terus bertambah. MUI tak ingin pelaku usaha Indonesia tertinggal dalam perkembangan industri halal saat ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan meski semula halal tujuannya menjaga dan melindungi umat, halal sekarang mengglobal dan jadi bisnis besar. Menurutnya, halal kini merambat ke mana-mana dan Indonesia juga bersaing di wisata halal. “Korea Selatan, Cina mengembangkan itu. Aneh jika Indonesia tidak siap. Malaysia bahkan memiliki dirjen wisata halal,” tambahnya.

Menurut Ma'ruf, penting bagi biro perjalanan paham menyediakan pemandu dan fasilitas halal. Sebelum menyelenggarakan paket perjalanan halal, biro perjalanan harus dapat rekomendasi dari MUI melalui Dewan Syariah Nasional (DSN) sebelum mengajukan izin ke Kementerian Pariwisata.

“Di MUI sendiri sudah ada LPPOM dan DSN, kedua lembaga ini bergabung untuk menangani wisata halal di Indonesia,” kata Kiai Ma'ruf dalam Munas II Asphurindo di Gunung Geulis, Kabupaten Bogor, Selasa (10/1).

Berbeda dengan LPPOM yang fokus pada sertifikasi halal produk dan barang gunaan, DSN fokus ke keuangan dan bisnis halal. Kalau suatu usaha memasang label halal sendiri, konsekuensinya pada pelaku. Bila mengklaim syariah tapi belum sertifikasi ke MUI, MUI tidak bertanggungjawab.

“Karena itu, baiknya biro yang menyelenggarakan wisata halal baiknya segera sertifikasi. Agar tidak sulit, bersama-sama saja sehingga mengurusnya lebih mudah karena syaratnya diketahui bersama,” kata Kiai Ma'ruf.

Dalam kesempatan sama, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Tazbir, menjelaskan pariwisata jadi komitmen nasional dan semua kementerian akan sejalan ke arah sana. Indonesia punya target 20 juta wisatawan mancanegara dan lima juta wisatawan Muslim pada 2020.

Setelah berhasil melangkahi Malaysia di WHTA 2015 dan 2016, Indonesia tidak lagi rendah diri. Pembangunan citra dan promosi wisata halal Indonesia terus membaik, tinggal proses bisnis pada penjualan paket wisata halal ke Indonesia. “Saat ini banyak yang buat biro umrah, jarang ada yang buat biro wisata halal ke Indonesia. Dengan menjual paket wisata halal kita jadi bagian yang ikut membawa devisa ke Indonesia. Sekarang kita butuh tim jualan,” kata Tazbir.

Kemenpar membentuk Tim Pengembangan dan Percepatan Pariwisata Halal (TP3H) untuk mendorong pariwisata halal. Sekarang ada 117 juta wisatawan Muslim yang bepergian untuk wisata. Untuk terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari Timur Tengah, paket wisata halal perlu lebih banyak.

Penghargaan yang berhasil Indonesia raih akhirnya menyadarkan kalau selama Indonesia kurang menggerakkan sektor wisata ini. Perlu berbagi tugas antara pemerintah dan pelaku bisnis. Asosiasi biro perjalanan bisa menjual paket dan Kemenpar membantu promosi. ''Di Indonesia, kalau ada satu yang berhasil, yang lain ikut,'' ungkap Tazbir.

Saat ini yang terjadi di pasar global adalah 'perang' ekonomi. Potensi Indonesia. Jangan sampai potensi wisata Indonesia malah ditangkap dan dijual jadi paket wisata oleh negara lain.

Dari laporan State of Global Islamic Economy 2016-2017, belanja Muslim global untuk pariwisata pada 2015 (di luar haji dan umrah) mencapai 151 miliar dolar AS, tumbuh 4,9 persen dibanding 2014 atau tiga persen lebih tinggi dari pertumbuhan pariwisata global. Pendapatan yang dihasilkan industri pariwisata ramah Muslim ini ditaksir mencapai 24 miliar dolar AS pada 2015. (njs/dbs)

 


Back to Top