Terkait Haji 2017, Hanya Negara Ini yang Diwakili Ormas untuk Teken MoU dengan Arab Saudi

gomuslim.co.id – Sejak awal Januari lalu Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menerima beberapa delegasi dari berbagai negara untuk mendiskusikan persiapan haji 2017 (1438 H). Kabar gembira yang didapat oleh masing-masing negara adalah intruksi Raja Salman kepada Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Mohammed Saleh Benten untuk menambah kuota haji untuk setiap negara pasca perluasan Masjidil Haram.

Berdasarkan pengamatan gomuslim pada situs Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi Haj.gov.sa, pada (04/01) Indonesia dan Irak menjadi tamu pertama dalam pembahasan MoU haji 2017. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mewakili Indonesia dalam membicarakan persiapan haji 2017. Sementara itu, Negeri 1001 Malam diwakili oleh Ketua Badan Otoritas Haji dan Umrah, Syekh Khalid Al-Athiyyah.

Sementara itu, pada (05/01) Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi membahas persiapan haji dengan Turki dan Nigeria. Dalam pembahasan ini, Ketua Urusan Agama Turki, Mehmet Görmez mewakili rombongan dari Turki. Sementara itu, Nigeria mengutus Menteri Luar Negeri Khadija Bukar Abba Ibrahim terkait pertemuan ini.

Tajikistan dan Maladewa baru-baru ini (10/01) selesai membicarakan persiapan haji tersebut. Tajikistan yang merupakan negara pecahan Uni Soviet ini memberikan tugas MoU tersebut kepada Ketua Urusan Agama Sulaiman Daulat. Sementara itu, Duta Besar Maladewa, Abdullah Hamid, mewakili negaranya mendiskusikan persiapan haji 2017.

Senegal menjadi tamu Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi pada (08/01). Dalam pertemuan ini, negara yang terletak di benua Afrika ini mengutus Profesor Abdul Aziz Kébé, Ketua Departemen Studi Arab di Universitas Dakar (UCAD) Senegal.

Di antara negara tersebut hanya negeri tirai bambu yang diwakili oleh Wakil Ketua Asosiasi Muslim di Cina, Adil Haj Karim, sebagai utusan haji 2017. Hal ini mengingat bahwa Islam di masih merupakan agama minoritas di Cina. Seperti dikutip Sindonews, masyarakat Cina jutsru mayoritas tidak menganut agama.

Sejarah mencatat awal Agustus 1952 sejumlah masyarakat Muslim di Cina gagal melaksanakan ibadah haji melalui perjalanan laut menuju Pakistan. Sayangnya usaha mereka gagal akibat visa haji yang mereka usahakan dari Pakistan tidak berhasil didapat. Saat itu hubungan diplomatik antara Cina dan Arab Saudi belum terjalin.   

Menurut Saleh Idrus Ali, Ketua Persatuan Jurnalis Arab Sekutu Cina, Pertamakali Cina menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab diinisiasi saat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada April 1955. Agustus 1955, 22 orang Muslim Cina berhasil melaksanakan rukun Islam yang kelima. Hingga tahun 80-an, jumlah Muslim yang telah melaksanakan haji masih berkisar ratusan orang.

Pada tahun-tahun berikutnya jumlah Muslim Cina yang menunaikan ibadah haji meningkat signifikan. Pada tahun 1990-an, Saleh Idrus mencatat 1459 Muslim berhasil pergi ke Baitullah. Sementara itu, jumlah jemaah haji terbaru (2015) mencapai kurang lebih 14500 orang. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Cina semakin meningkat tajam. Saat ini diperkirakan jumlah Muslim di Cina mencapai 50.000 juta jiwa lebih. (ihs/dbs)


Back to Top