Bidik Pembiayaan KPR, BNI Syariah Optimis Akan Tumbuh 17 Persen pada 2017

gomuslim.co.id- Memasuki semester pertama di tahun 2017, sejumlah bank syariah optimis akan mengalami pertumbuhan. Salah satunya adalah PT. Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah). Melalui program pembiayaan perumahan atau kredit pemilikan rumah (KPR), BNI Syariah menargetkan kredit tumbuh hingga mencapai 17%.

Hal demikian disampaikan Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa penyaluran KPR tahun ini naik Rp1,8 triliun. “Perkiraan KPR tumbuh sekitar 17% atau naik sekitar Rp 1.8 triliun,” ujarnya saat dihubungi BIsnis, Rabu (11/1/2017) kemarin.

Dirinya juga menambahkan realisasi kinerja pembiayaan rumah mencapai Rp 10,9 triliun, “Posisi Desember 2016 outstanding pembiayaan KPR sekitar Rp10,9 triliun. Perseroan mematok target KPR tumbuh 17% seiring dengan upaya yang dilakukan manajemen untuk menggenjot penyaluran KPR,” katanya.

Menurut Imam, pelonggaran rasio "Loan to Value" dalam program KPR dinilai baru akan berdampak pada tahun 2017. “Pembiayaan perumahan BNI Syariah diharapkan tumbuh 15 % pada tahun 2017 setelah pada 2016 diperkirakan 10 sampai 12 %,” ucapnya.

Harapan pada KNKS Dengan terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Imam berharap perbankan syariah dapat tumbuh pesat. Ia mengharapkan harmonisasi kebijakan antar otoritas, baik antara Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan juga Kementerian Keuangan.

Misalnya, untuk pengenaan pajak pada deposito perbankan syariah. Menurut Imam, tarif pengenaan pajak pada deposito syariah perlu diperlonggar dan mengikuti skema pajak pada reksadana dan saham. “Saat ini, pajak deposito syariah masih mengikuti skema pajak pada deposito konvensional, yakni sekitar 20 %,” katanya.

Jika mengikuti skema pajak reksadana atau saham, tarif pajak dapat berkurang hingga 5 % sehingga akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. "Pajak deposito syariah lebih cocok menggunakan skema, seperti reksadana dan saham, karena fluktuasi pada deposito syariah yang tidak tetap. Jika pajak skema reksadana diterapkan ke deposito syariah, partisipasi masyarakat akan meningkat di bank syariah," ucapnya.

Selain itu, Imam menuturkan pihaknya akan meningkatkan perolehan dana Kementerian/Lembaga dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disimpan di perbankan syariah. “Ketika ditunjuk jadi bank syariah yang menjadi bank persepsi pada tahun 2016, kami belum terlalu optimal. Sekarang kami mulai gencar dan banyak juga menyimpan dana pemerintah, termasuk pemerintah daerah,” tuturnya

Sekedar informasi, produk BNI Griyai iB Hasanah merupakan fasilitas pembiayaan konsumtif yang diberikan kepada masyarakat untuk membeli, membangun, renovasi rumah (termasuk ruko, rusun, rukan, apartemen dan sejenisnya) dan membeli tanah kavling serta rumah indent yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan dan kemampuan membayar calon nasabah.

Disisi lain, pemerintah berencana mendongkrak penerbitan sukuk untuk menambah alternatif pembiayaan program-program pembangunan. "Dana dari penerbitan sukuk oleh Pemerintah, sebaiknya ditempatkan di perbankan syariah," ujarya.

Di awal 2016, BNI Syariah juga menargetkan pertumbuhan pembiayaan yang cukup agresif, 15 sampai 20 %. Namun, pada bulan Oktober 2016, Imam melihat target pertumbuhan pembiayaan 2016 tersebut sulit tercapai karena pertumbuhan ekonomi domestik belum sekencang yang diharapkan. (njs/dbs)

 


Back to Top