Reborn Miarosa 2017

Taruna K. Kusmayadi: Ini Tren Fesyen Busana Pengantin Hijab Tahun 2017

gomuslim.co.id- Pagelaran mini wedding fashion show bertema Miarosa: 17 Reborn  Modest Moslem Bride yang diselenggarakan brand Rias & Busana Pengantin Hijab, Miarosa, berlangsung di Glasshouse Suasana Restaurant Aston Kuningan, Jakarta, Selasa (17/1). Tahun ini, Miarosa kembali hadir namun dengan hijrahnya yang mengkhususkan diri melayani calon pengantin berhijab.

Ada 8 gaya busana yang dihadirkan pada pagelaran tersebut, diantaranya 5 gaya busana pengantin nusantara, Sunda, Minang, Makassar, Palembang, Betawi, dan 3 gaya pengantin hijab nasional yang didominasi dengan konsep gaun.

Sebelum pameran 8 gaya b usana pengantin hijab, pada kesempatan tersebut digelar talkshow mengenai Miarosa Review oleh tiga pembicara, Samia Nadhi selaku owner, Soraya Larasati konsumen Miarosa, dan Taruna K. Kusmayadi seorang desainer sekaligus anggota dari Indonesia Fashion Chamber (IFC).

Dalam talksow tersebut, Taruna menyampaikan beberapa pandangannya mengenai tren fesyen pengantin di tahun 2017. Dikatakannya konsep modest akan menjadi kian digemari desainer Indonesia karena saat ini muslimah cenderung berhijab, kesan sederhana dan sopan akan menjadi perhatian desainer dalam berinovasi menciptakan karya terbarunya.

“Warna merah dan warna-warna cerah akan menjadi tren di bulan Mei hingga Agustus, hal tersebut dipengaruhi oleh asosiasi fesyen dunia  sehingga menjadi kiblat tren fesyen yang nantinya akan diadaptasi oleh desainer-desainer dunia,” ungkap Taruna.

Namun seiring dengan berubahnya tren yang semakin modern, busana pengantin juga kian berubah konsep. Sentuhan tradisional mulai ditinggalkan oleh desainer karena dilema akan perubahan tren dunia dan permintaan konsumen. Mereview busana Miarosa, Taruna mengapresiasi busana pengantin hijab Miarosa yang masih menampilkan unsur tradisional nusantara yang diakhir acara akan diperagakan oleh 8 model.

“Sanggar harus memperhatikan unsur-unsur tradisional dalam pengaplikasian rias dan aksesoris. Ini akan menjadi tantangan agar tren klasik dapat bertahan,” ujarnya.

Selain aplikasi tambahan rias dan aksesoris, memasukan ornamen tradisional berupa embroidery (sulam red.) akan menampilkan kesan khas dalam busana pengantin.

“Contohnya seperti busana tradisional Palembang yang diwakili dengan kain songketnya atau motif yang dapat diaplikasikan dengan sentuhan embroidery. Sedangkan untuk songket dapat dijadikan aplikasi di bagian manset dari busana pengantin pria,” papar pria yang menjadi pengajar di Institut Kesenian Jakarta.

Kendati demikian, lanjut Taruna, menjadikan sanggar yang berkonsentrasi pada klien berhijab bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan pemilihan bahan yang nyaman merupakan tantangannya.

“Bahan manset, penutup kepala ciput/ninja dan penutup leher pada hijab menjadi yang krusial, karena pemakaian dalaman hijab harus yang berbahan nyaman, ini yang menjadi tantangan dari sanggar yang berfokus pada klien berhijab,” imbuh Taruna.

Tantangan tersebut menjadikan desainer mampu berinovasi dalam menampilkan karya yang akan digemari klien dan menjadikan tren mode bagi kiblat fesyen tertentu. “Selain itu yang menarik di tahun ini adalah motif embroidery yang menyerupai kulit salak akan menjadi tren, dan rias pengantin yang klasik, modest, cantik namun tidak mencolok juga akan meramaikan tren fesyen di tahun 2017,” pungkas Taruna. (nat)

Baca juga:

17 Tahun Berkarya, Sanggar Miarosa Hijrah ke Tren Busana Pengantin Hijabers


Back to Top