Global Islamic Economy Report: Generasi Milenial Pemacu Industri Produk Halal

gomuslim.co.id- Seiring dengan meningkatnya kesadaran generasi muda Muslim dalam mengonsumsi produk halal, efek  ekonomi syariah global terus berkembang. Kontribusi tersebut mendorong industri global berlomba-lomba memenuhi kebutuhan berdasarkan keyakinan generasi muda muslim tersebut.

Pada data Global Islamic Economy Report (GIER) 2016 sampai 2017 memperkirakan belanja muslim global untuk produk halal mencapai 1,9 triliun dolar AS pada 2015. Meningkat ketimbang tahun sebelumnya, sekitar 1,8 triliun dolar AS.

GIER disusun oleh Dubai Islamic Economy Development Center dan Thomson Reuters yang berkolaborasi dengan DinarStandar. Laporan itu memuat enam sektor yang bisa menjadi indikator perkembangan terkini ekosistem ekonomi Islam di 73 negara: 57 negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) dan sisanya non-anggota.

Keenam sektor lainnya adalah industri makanan halal (halal food), keuangan syariah (Islamic finance), wisata halal (halal travel), busana (modest fashion). Kemudian, hiburan dan media halal (halal media and recreation), dan farmasi -kosmetik halal (halal pharmaceuticals and cosmetics).

Menariknya, laporan tersebut untuk pertama kalinya merekam sentimen 172 industrialis lintas sektor dan generasi milenial. Hasilnya, pelaku industri meyakini bahwa segmen ekonomi syariah tengah tumbuh tinggi. Hal senada juga terjadi pada milenial. Mayoritas generasi lahir pada era 1980 hingga 2000 yang disurvei tersebut merespon positif wacana ekonomi syariah.

Pada kenyataannya generasi milenial adalah penentu masa depan dan wajah bisnis global. Pasalnya, populasi generasil milenial di dunia saat ini diperkirakan mencapai 2 miliar jiwa. Sebanyak 86 persen tinggal di negara berkembang dan diperkirakan bakal menguasai 50 persen dari total angkatan kerja pada 2020.

Generasi milenial Muslim tentu saja memiliki peran kritikal terhadap pembangunan ekonomi syariah. Generasi milenial muslim memiliki median usia 23 tahun pada 2010, lebih muda tujuh tahun ketimbang median usia generasi milenial nonmuslim. Pada 2030, sebanyak 29 persen populasi muda global (usia 15 sampai 29) diproyeksikan menjadi muslim.

Karenanya, GIER 2016 – 2017 mencoba memanfaatkan facebook untuk mengetahui pandangan generasi milenial terhadap ekonomi syariah.

Aplikasi pertemanan dunia maya itu dinilai mendominasi lanskap media sosial lantaran memiliki 1,59 miliar pengguna aktif, per Januari 2016. Di atas Twitter 320 juta pengguna aktif dan Instagram (400 juta). 

Terkait ekonomi syariah yang terlacak sepanjang 27 Juli sampai 17 Agustus 2016, sepanjang tiga pekan itu, total terdapat 452.600 interaksi tersebut melibatkan pengguna aktif berusia 18 – 35 tahun.

Hasilnya, generasi milenial Indonesia tercatat paling banyak terlibat dalam diskursus terkait ekonomi syariah (126 ribu interaksi). Sedangkan, Malaysia hanya 84.700 interaksi, Pakistan (55.900), dan AS (14.600).

Dari 126 ribu interaksi antara generasi milenial Tanah Air, sebanyak 54 persen atau 58.600 interaksi membahas perihal busana muslim. Kemudian, 37.500 interaksi soal keuangan syariah, dan 7.800 interaksi terkait farmasi-kosmetik halal. 

Dengan adanya kesadaran generasi milenial akan produk halal yang meningkat dinilai bisa menjadi modal sosial guna meningkatkan ekonomi syariah di Tanah Air.

"Demografi dari populasi generasi muda muslim menjadi driver utama mendorong perkembangan industri halal," kata Niken Iwani Surya Putri, Peneliti Industri Halal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (17/1). 

"Selain itu berkembangnya kesadaran akan produk dan jasa lebih etis dan berkualitas menempatkan produk dan jasa halal sebagai target permintaan potensial dimasa depan," ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Ikshan Abdullah menilai, Indonesia seharusnya menjadi penggerak utama industri halal global. Alasannya, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. 

"Dengan penduduk muslim yang besar, Indonesia seharusnya jadi pionir Industri produk makanan dan minuman maupun wisatanya," pungkas Ikhsan. (nat/dbs)


Back to Top