Ini Kata Cendikiawan Muslim Tentang Toleransi dalam Islam

gomuslim.co.id- Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Salah satu ajaran pentingnya yaitu sikap toleransi. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Alquran, kitab suci umat Islam dan pedoman hidup bagi seluruh manusia. Ajaran ini sejatinya telah diajarkan kepada kalangan umat Islam, khususnya dikalangan santri sejak awal.

Demikian disampaikan cendekiawan Muslim KH Didin Hafidhuddin beberapa waktu lalu. Menurutnya, toleransi ini menjadi bagian penting dalam Islam. “Toleransi itu bagian dari ajaran Islam, jelas diajarkan dalam Alquran,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, Rabu (18/01) kemarin.

Lebih lanjut, mantan Ketua Umum Baznas ini menerangkan bahwa santri-santri sejak awal pasti akan diajarkan untuk harus menghargai agama-agama lain yang ada, terutama umat beragamanya. Santri, selalu ditekankan jika orang-orang yang agamanya berbeda dengan Islam harus senantiasa dihargai, termasuk saat mereka melaksanakan ibadahnya.

Namun, kata dia, masyarakat juga luas harus memahami toleransi itu menghargai adanya perbedaan, bukan mempertemukan perbedaan yang ada. Ia menegaskan, pemahaman toleransi mempertemukan perbedaan yang ada merupakan pemaknaan yang salah, apalagi sampai ada pemaksaan melakukan ritual agama lain.

“Jangan dipaksakan saling menyatakan agama lain itu sama, dan kita dipaksa mempertemukan perbedaan, itu yang salah dan jadi masalah. Dalam Islam sudah jelas bahwa tidak ada paksaan dalam agama,” ungkap Didin.

Untuk itu, ia mengingatkan jika umat Islam sudah sejak dulu mengajarkan secara luas tentang toleransi, termasuk melalui lembaga pendidikan kepada santri-santri. Menurut Didin, itu sudah tidak bisa lagi terbantahkan karena sebagai umat Islam, toleransi merupakan bagian dari akidah.

Dalam kesempatan berbeda, Wakil Presiden HM Jusuf Kalla mengingatkan pentingnya menjaga budaya toleransi dan kerukunan antarumat beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

"Kita bersyukur, bahwa di Indonesia ini umat Islam terjaga. Tidak mengalami konflik-konflik yang besar. Konflik definitif dalam skala tertentu memang ada, tapi tidak saling membunuh, tidak saling membakar, tidak saling mengebom ataupun tidak saling menyalahkan,” kata Wapres Jusuf Kalla saat memberi sambutan peresmian Bangunan Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Darul Hikmah di Tulungagung, Jawa Timur.

Wapres juga berpesan kepada seluruh umat muslim di Tanah Air, terutama di lingkungan pondok pesantren untuk terus mengajarkan kehidupan yang saling menghargai, yang moderat, yang toleran. “Tapi kita juga harus mengartikan toleransi itu secara baik. Toleransi itu harus semua pihak yang toleran, jangan hanya satu saja. Harus semua,” ujarnya.

Wapres mengatakan, konsep dan budaya toleran harus dikembangkan dalam semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terkecuali dalam hal keagamaan. "Dari sisi agama sederhana saja. Lakum dinukum waliyadin. Bahwa, agama kamu agamamu agama saya agama saya. Dengan pengertian itu saja kita sudah bisa saling menghargai," ucapnya.

Namun, Jusuf Kalla menegaskan bahwa toleransi juga tidak boleh berjalan secara "buta". Bahwa jika ada yang salah dari satu pihak, maka koreksi dan evaluasi harus tetap dilakukan. "Tapi kalau memang salah ya harus disalahkan. Tidak berarti apapun yang dilakukan salah satu pihak harus ditoleransi, tidak. Jika satu pihak membuat kesalahan harus ditegur. Itulah penghormatan dan toleransi yang baik," katanya.

Dengan landasan itulah, Wapres mengatakan muslim Tanah Air pantas berbangga sebagai umat Islam sekaligus Bangsa Indonesia karena bisa selalu menjaga martabat dan juga selalu menjaga hal-hal seperti di atas. “Karena itulah modal kita adalah pendidikan agama yang baik, seperti pondok modern ini (Darul Hikmah). Sama juga dengan pesantren-pesantren yang begitu banyak di Jawa Timur, Jawa Tengah dan seluruh Indonesia," paparnya.

Ia berpesan agar umat muslim di Indonesia terus menggali ilmu, mengikuti ilmu agar bermanfaat bagi masyarakat. Kalla mengaku masih bisa berbangga dengan perkembangan Islam di Indonesia yang masih menjaga budaya toleran dan moderat, sehingga tidak saling merusak satu sama lain. (njs/dbs)

 


Back to Top