Gerakkan Ekonomi Masyarakat, ICMI Canangkan Pembentukkan Bank Wakaf

gomuslim.co.id- Pada pertemuan di Istana Negara, Senin (23/01), (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menyampaikan beberapa hal kepada Presiden Jokowi setelah menyelesaikan Silahturahim Kerja Nasional (Silatnas) dalam rangka ulang tahun ke-20.

Dari Silatnas ini, ICMI bertekad kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus-kampus Islam dengan perspektif ilmiah dan ilmu serta moral. Selain itu, ICMI berencana akan membentuk Bank Wakaf Ventura. Bank Wakaf ini nantinya diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat kecil.

Rencana ini pun telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan siang ini di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Jokowi pun memberikan respons positif terhadap rencana ini.

Di samping itu, Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prio Budi Santoso mengungkapkan, pemanfaatan Bank Wakaf ini nantinya akan difokuskan kepada masyarakat kecil.

“Sasarannya adalah pada masyarakat di pedesaan hingga pesantren. Ini akan disalurkan ke masyarakat di pesantren. Kemudian yang selama ini masih terpinggirkan karena persoalan ekonomi. Ini akan lebih yang membutuhkan khususnya di pedesaan, pesantren," ungkap Prio.

Lebih lanjut,  rencana ini akan dibahas bersama pemerintah dan jajaran terkait lainnya. Meskipun bernama Bank Wakaf, aturan yang digunakan pun tak terlepas dari aturan syariah sesuai ajaran agama Islam.

Dia menilai konsepnya sama, namun sistemnya mungkin secara syariah. “Kalau teknisnya ada, tapi sudah ada pakem menurut aturan syariah, dan tadi respons presiden positif. Kita gembira ini menjadi hal yang akan disetujui Presiden," pungkasnya.

Bank wakaf pada dasarnya akan menjawab keraguan banyak pihak akan keberadaan harta aghniya yang disalurkan kepada lembaga-lembaga yang tidak memiliki manajemen keuangan yang terstandar. Dengan adanya bank wakaf ini, publik yang menginfakkan atau mewakafkan hartanya akan lebih puas karena mendapatkan banyak keuntungan.

Pertama, service. Dengan system perbankan, tentu saja service akan lebih terstandar dan lebih baik. Profesionalisme yang dibangun oleh perbankan akan memberikan kepuasan kepada nasabah atau muwakkif tentang sistem pelayanan yang lebih baik. Di sana juga akan disuguhi kemudahan dalam berbagai hal, termasuk cara wakaf dan infak yang lebih maju. Jika selama ini orang masih bingung harus datang ke mana dan bagaimana caranya, dengan service perbankan ummat akan sangat dimudahkan. Baik bertemu langsung ke bank atau tidak, proses pelayanan tetap bisa dilakukan. 

Kedua, transparansi. Dengan sistem perbankan, umat bisa mengontrol harta yang diwakafkan atau diinfakkannya. Dengan disalurkan kepada bank wakaf, setiap orang akan dapat melihat posisi hartanya, aliran penyalurannya ke mana, dan digunakan untuk apa. Dengan system yang lebih transparan ini, setidakna keraguan untuk melakukan wakaf atau infak ini akan terminimalisir. Atau nantinya, karena setiap muwakkif itu telah memilih objek saluran hartanya, dia akan tahu apakah hartanya telah sesuai dengan tujuannya atau tidak. 

Ketiga, manajemen. Syitem perbankkan jelas akan memiliki system yang lebih ketat, lebih terstandar dan professional. Manajemen perbankan juga akan menempatkan orang-orang yang memiliki kompetensi khusus di berbagai bidang pengelolaannya. Karenanya, manajemen bank akan lebih memberikan kepuasan kepada umat.

Keempat, kontrol. Lembaga perbankan ini akan lebih mudah dikontrol. Setiap orang bisa saja melakukan kontrol terhadap keberadaan bank ini dengan berbagai aktivitas penyaluran harta ummatnya. Namun secara khusus, kontrol ini dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus yang mereka memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang ZIS dan wakaf, baik yang berbasis pada mesjid, yayasan keagamaan, atau Ormas keagamaan, bahkan mungkin saja MUI.

Intinya, bank wakaf ini akan memiliki standarisasi yang jauh lebih baik sehingga dapat membangun kepercayaan kepada publik. Upaya ini tentu saja bukan dalam rangka membangun persaingan dengan lembaga ZIS dan wakaf yang sudah ada dan berperan di masyarakat, tetapi setidaknya dapat menampung harta para aghniya yang selama ini masih mencari lembaga yang tepat untuk menyalurkan hartanya. (nat/dbs)


Back to Top