Temui Presiden di Istana, ICMI Bahas Kegiatan Ilmiah Kampus Hingga Kerukunan Umat Beragama

gomuslim.co.id- Kampus-kampus Islam di Indonesia mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan generasi bangsa. Namun, hal ini perlu dukungan dari semua pihak khususnya dalam menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan ilmiah. Pengaktifan kegiatan ilmiah tersebt dalam rangka menangkal irasionalitas yang mulai muncul di dunia kampus.

Demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/01). Menurutnya, upaya mendorong kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus-kampus Islam  tersebut merupakan salah satu program kerja ICMI ‎usai menggelar Silaturahmi Kerja Nasional (Silatnas) ke-26 pada Desember 2016 lalu.

“Kehadiran pengurus ICMI untuk kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan ilmiah di kampus-kampus Islam dengan perspektif ilmiah, ilmu dengan perspektif moral. Nah, ini gerakan sekaligus menangkal mulai muncul dan masuknya irasionalitas dalam dunia kampus, nah kita laporkan mengenai itu," ujar Jimly.

Lebih lanjut, Jimly menuturkan bahwa Presiden Jokowi menanggapi antusiasme semua ide dan gagasan dari ICMI. Bahkan, menurut Jimly, mantan Walikota Solo itu akan menindaklanjuti beberapa rencana program kerja ICMI seperti pelatihan-pelatihan kepemimpinan baik di bidang politik maupun kewirausahaan bagi mahasiswa.

Selain itu, Jimly juga menyampaikan pandangan ICMI tentang kondisi negara yang berkembang saat ini. "Kami sampaikan kebhinekaan adalah kenyataan hidup bagi bangsa kita, sehingga tidak mungkin ada kekurangan apa pun yang bisa menghilangkan ciri ke-Indonesiaan kita, pluralisme kita. Tapi di satu sisi Indonesia, di saat yang sama sulit juga bagi kita berharap tidak ada masalah di dalam pengelolaan kita terhadap kebhinekaan kita," jelas dia.

“‎Jangan sampai gejolak-gejolak anti-pluralisasi itu terus berlanjut. Nah ini harus dikelola dengan tepat, jangan sampai masing-masing kelompok ini makin diperketat, sehingga menyulitkan upaya ke depan membangun kerukunan, pembauran, dan kerukunan itu menjadi kunci yang dari tadi kita bicarakan dengan Presiden," imbuhnya.

Jimly menambahkan, Presiden Jokowi sangat merespons pembahasan mengenai isu kesenjangan sosial. Hal ini akan menjadi salah satu di antara fokus Presiden Jokowi dalam program kerja di pemerintahannya‎ pada 2017.

‎"Nah ini lah yang kami bicarakan di samping hal-hal lain yang semakin memerlukan pertemuan-pertemuan lagi seperti dengan menteri misalnya ada rencana akan dibentuknya satu roda penggerak ekonomi dengan kerjasama semua Ormas Islam. Ini yang kita harapkan di samping program dakwah sosial yang dikembangkan gerakan ekonomi. Dan, kita dukung dengan sistem sekolah kewirausahaan, ini yang tadi kami bicarakan akan segera mendapat follow up dengan pertemuan beberapa menteri," pungkasnya.

Jimly juga menyampaikan kepada Jokowi betapa pentingnya pembentukan forum kerukunan antar-umat beragama. "Kami menyampaikan pentingnya forum kerukunan umat beragama, religius harmony forum yang akan kami kembangkan bersama para cendikiawan lintas agama," ujar dia.

Forum kerukunan antar-umat beragama akan fokus pada paya umenciptakan kerukunan antar-umat beragama di Tanah Air. Formatnya seperti Bali Democracy Forum yang dibentuk pada era Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono. Jimly mengatakan, saat ini ICMI tengah mematangkan rencana pembentukan forum tersebut.

"Di suatu tempat, kami sedang incar, kemungkinan di Toba. Tapi nanti akan dibicarakan lebih detil bersama ormas, para cendikiawan nasional dan menteri yang memberikan dukungan," ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Jimly didampingi beberapa pengurus ICMI, di antaranya Priyo Budi Santoso, Muhammad Qodari, dan Firdaus Djaelani. Sedangkan Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno. (njs/dbs)


Back to Top