Bangkitkan Ekonomi Umat Islam, Inilah 'Kampoeng Kurma' Pertama di Indonesia

gomuslim.co.id- Selama ini, kita mengenal buah kurma sebagai makanan penting saat berbuka puasa. Kurma merupakan buah yang berasal dari Timur Tengah dan termasuk ke dalam tanaman palma. Buah yang dahulunya diperkirakan dari Teluk Persia ini memiliki berbagai macam manfaat dengan kandungan vitamin dan mineral yang tinggi.

Saat ini, buah kurma tidak hanya menjadi sumber ekonomi masyarakat Arab Saudi dan Timur Tengah. Tetapi juga masyarakat di Tanah Air, tepatnya di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor. Di sana terdapat budidaya tanaman kurma yang menjadi terobosan baru dan menjadi potensi yang cukup besar yaitu Kampoeng Kurma.

Kampoeng Kurma mampu membangkitkan perekonomian umat Islam. Jika banyak yang mengatakan pohon sawit adalah primadona dalam bidang industri, ternyata pohon kurma pun memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan usianya 90 sampai 100 tahun. Pohon kurma ini, bisa diwariskan ke anak cucu.

Co-Founder Kampung Kurma, Risky Irawan mengatakan pada awalnya dia prihatin melihat lahan di Indonesia yang begitu banyak tapi tidak produktif. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan, lahan menjadi tak produktif.

“Kemungkinan karena kurangnya ilmu dari pemilik lahan, ataupun koefisien lahannya hanya sebesar 10-20 persen. Karena itu developer tidak berminat untuk memanfaatkan lahan tersebut,” ujarnya belum lama ini.

Risky pun kemudian melakukan penelitian selama tujuh tahun. Dari penelitiannya itu diketahui, bahwa pohon kurma bisa tumbuh di Indonesia dalam usia lima tahun. “Ini lebih cepat dibandingkan di Timur Tengah yang bisa berbuah dalam usia 10 tahun. Jelas, ini sesuai dengan yang tersurat dalam Alquran dan hadis bahwa pohon kurma adalah pohon ajaib dan abadi. Alhasil, kami tuangkan ide tersebut dalam lahan perkebunan Kampoeng Kurma ini," paparnya.

Satu pohon kurma umumnya bisa menghasilkan 100 kg hingga 200 kg buah kurma dalam sekali panen. Namun, ada juga pohon yang 500 kg hingga 600 kg. Sementara harga rata-rata per kilo kurma paling murah Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

“Misalnya, jika harga Rp 100 ribu X 200 kg = Rp 20 juta. Itu hanya dari panen satu pohon. Tentu  nilai ekonominya lebih tinggi dari buah biasa," tambahnya.

Menurut Risky, pohon kurma tidak rumit dalam perawatannya. Meski dibiarkan saja, masih tetap berbuah, apalagi jika dirawat. Setiap bagian kurma dari akar sampai pelepahnya pun bisa dimanfaatkan.

"Ternyata Islam ini punya pohon yang luar biasa, terlepas dari zaitun, tin dan lain-lain. Jadi dari hasil penelitian kami, kurma ini bisa jadi salah satu penyokong perekonomian umat. Sayangnya, tentang kurma ini masih jarang yang tahu. Untuk itu, kami membangun lahan perkebunan yang isinya hanya boleh dimiliki oleh umat Islam saja," ucapnya.

Perkebunan kurma ini, papar Risky, bukan hanya memiliki nilai ekonomi untuk pemilik kebun saja, tapi juga bisa membangun perekonomian masyarakat sekitar. "Ketika umat Muslim sudah diedukasi lebih lanjut, mereka bisa mengolah sendiri atau berkerja sama dengan kami dengan memberdayakan masyarakat sekitar yang sudah terdidik dan terlatih. Tentu ini akan membuka lapangan yang sangat besar," katanya.

Bayangkan kalau umat Muslim tahu sampai dengan di masa yang akan datang punya potensi yang sedemikian rupa. “Kami pikir dengan salah satu upaya demikian ini, bisa membuat umat Muslim mempunyai salah satu perekonomian yang betul-betul real di sektor real jangan sampai kita menjadi tamu di negara sendiri. Mengingat pekerja asing sudah banyak datang ke Indonesia," tandasnya. (njs/dbs)


Back to Top