BAZNAS Imbau Amil-Amilat Terapkan 'Sense of Asnaf' untuk Penerima Zakat

gomuslim.co.id- Penyaluran zakat harus disalurkan kepada Asnaf atau orang yang berhak menerima zakat secara tepat sasaran, yaitu diutamakan kepada golongan fakir dan miskin. Karena itu, seluruh amil dan amilat (pegawai) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) harus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap 8 asnaf.

Pada kesempatan Rapat Kerja (Raker) Direktorat Umum BAZNAS di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/01), Wakil Ketua BAZNAS Dr.Zainul Bahar Noor menyampaikan pendapatnya bahwa setiap amil dan amilat harus terus mengasah ‘Sense of Asnaf’, sehingga mampu menjadi insan yang jujur, amanah, profesional, dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

Raker yang dibuka anggota BAZNAS Irsyadul Halim dan Prof. Dr. Mundzir Suparta yang berlangsung dua hari ini, membahas program kerja masing-masing unit di bawah Direktorat Umum BAZNAS. Kedelapan kategori asnaf adalah, fakir, miskin, amil, mualaf, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang terlilit utang), fisabilillah, dan ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).

Di samping itu, Zainul mengingatkan para amil-amilat agar memupuk sensitivitas terhadap kaum dhuafa dengan meningkatkan intensitas kegiatan yang bersinggungan langsung dengan fakir-miskin. “Sering-seringlah hadir, merespons dan membantu para fakir-miskin. Dan bila perlu, untuk meresapi beban penderitaan mereka,amil-amilat tinggal beberapa hari bersama kaum fakir-miskin,” ujar Zainul.

Dalam hal tersebut dihimbau kepada amil-amilat BAZNAS, agar menanamkan tiga hal dalam kegiatannya, terutama dalam menggunakan uang zakat, infak dan sedekah (ZIS). Zainul menghimbau agar kita harus be careful  atau hati-hati, be aware atau sadar, dan be conscious atau sadar dan fokus.

“Sebab, semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan secara hukum, baik di dunia, maupun di akhirat yaitu di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT),” jelasnya.

Kendati demikian, jika merujuk referensi legislasi BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstructural yang membidangi masalah sosial-keagamaan. Hal demikian tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

“Perlu digaris bawahi BAZNAS bukan korporasi atau perusahaan. Dalam undang-undang, sudah jelas disebutkan bahwa pengelolaan zakat, selain bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat, juga meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan Masyarakat dan pengentasan kemiskinan,” papar Zainul.

Dijelaskan kembali, Pasal 3 (huruf b) UU 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan, ‘Pengelolaan zakat bertujuan meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan’. Direktorat Umum BAZNAS terdiri atas Biro Keuangan, Biro SDM, Biro Hukum, Humas, dan Kelembagaan, serta Bagian Umum. 

Di kesempatan yang sama, Direktur Umum BAZNAS, Kiagus Mohammad Tohir, mengatakan, rapat kerja digelar untuk mengevaluasi program kerja tahun 2016, kemudian dibahas program kegiatan selama setahun untuk 2017, guna mewujudkan BAZNAS sesuai visi dan misinya, yakni menjadi pengelola zakat terbaik dan terpercaya di dunia. (nat/dbs)


Back to Top