Ini Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi OJK Tentang Produk Keuangan Syariah

gomuslim.co.id- Pemahaman masyarakat tentang keuangan syariah menjadi salah satu tolak ukur kebangkitan industri keuangan syariah di Indonesia. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2016, tingkat pengguna produk dan jasa keuangan syariah di Indonesia baru sebesar 11,06%. Sedangkan indeks literasi keuangan syariah sebesar 8,11 persen.

Hal ini menunjukan bahwa dari 100 orang di Indonesia, baru 11 orang yang sudah menggunakan produk dan jasa keuangan syariah. Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap layanan dan produk keuangan syariah masih rendah. Survei tersebut dilakukan OJK di seluruh provinsi yang mencakup 9.680 responden di 64 kota dengan mempertimbangkan gender, strata wilayah, umur, pengeluaran, pekerjaan dan tingkat pendidikan.

Meski demikian, secara umum indeks literasi keuangan sebesar 29,66% dan indeks inklusi keuangan sebesar 67,82%. Angka tersebut meningkat dibanding hasil SNLIK pada 2013, yaitu indeks literasi keuangan 21,84% dan indeks inklusi keuangan 59,74%. Ini artinya, tingkat pemahaman  dan penggunaan keuangan menunjukkan adanya kenaikan.

Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti Soetiono mengatakan indeks pengguna  produk dan jasa keuangan syariah rupanya lebih tinggi ketimbang indeks pemahamannya. Dengan kata lain, pengguna produk dan jasa syariah lebih banyak dibandingkan jumlah orang yang memahaminya.

“8 dari 100 orang yang sudah paham dan terampil menggunakan produk keuangan syariah. Sementara inklusinya atau yang sudah pakai layanannya itu 11 dari 100 penduduk,” ujar Kusumaningtuti di Restoran Seribu Rasa, Jakarta, Selasa (24/1) kemarin.

Dia mencontohkan di Aceh, indeks penggunaan produk dan jasa syariah sudah mencapai 41,45%, tapi penduduk yang benar memahami produk dan jasa syariah hanya 21,09%. “Jadi ini menarik, di Aceh paling top inklusinya yakni 41,45%, tapi literasinya 22,09% atau hampir dua kali lipatnya. Ini perlu dibuat kajian lebih mendalam,” katanya.

Sementara di daerah lainnya seperti Bangka Belitung tingkat pemahaman produk dan jasa keuangan syariah baru 5,45% namun penggunanya 17,45%, Lampung pemahamannya 6,55% dan penggunaan 18,18%, DKI Jakarta pemahaman 16,36% dan penggunaan 17,55%, Jawa Barat pemahaman 21,56% dan penggunaan 7,79%, serta daerah Indonesia Timur seperti Maluku Utara pemahaman 12,73% dan penggunaan 12,73%, Papua pemahaman 1,09% dan penggunaan 5,82%.

"Tapi seperti di Jawa Timur orang yang paham (produk dan jasa) syariah lebih banyak dibandingkan yang pakai syariah," ucap Kusumaningtuti.

Dari data OJK, tingkat literasi produk dan jasa keuangan syariah yakni 29,35% dan tingkat inklusinya 12,21%. Daerah lain dengan jumlah orang yang paham lebih tinggi ketimbang pengguna produk syariah yakni Jambi literasi 12,73% dan inklusi 7,27% serta Sumatera Barat dengan literasi 11,64% dan inklusinya 7,27%.

Ia menyatakan, saat ini masyarakat masih menganggap risiko bukan fokus utama. Menurutnya, masyarakat sekarang lebih mengutamakan return yang besar, maka dari itu OJK akan terus melakukan edukasi ke berbagai daerah agar masyarakat tak salah pilih dalam menginvestasikan uangnya.

Menurutnya, OJK bersama IJK akan terus mendorong dan melaksanakan program literasi dan inklusi keuangan agar target indeks inklusi keuangan yang dicanangkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75% pada tahun 2019 dapat tercapai.

Pada kesempatan sama, Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah mengatakan, ke depannya pemahaman masyarakat terhadap jasa dan layanan keuangan syariah akan ditingkatkan. "Potensi masih sangat besar. Jadi ada keinginan kami untuk memperbesar," ujarnya.

Dari segi jenis kelamin, Deputi Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Anggar Nuraini mengatakan pria saat ini sudah menyalip dominasi wanita dalam soal keuangan. Menurut survei, kaum pria memiliki indeks literasi produk dan jasa keuangan sebesar 33,52%, lebih tinggi dari tingkat literasi wanita yakni 25,69%. “Biasanya kaum ibu yang lebih paham kalau urusan keuangan, dia kan menteri keuangan dalam rumah tangga. Tapi rupanya literasi keuangan laki-laki lebih tinggi,” imbuhnya.

Tak hanya lebih rendah dalam tingkat literasi, untuk indeks inklusi keuangan untuk jenis kelamin wanita di Indonesia baru 66,09%, masih lebih rendah dari indeks inklusi laki-laki yakni 69,5%. (njs/dbs)

 


Back to Top