Kunjungi Masjid Agung Jawa Tengah, Dubes Australia Terkesan Toleransi dan Komunitas Masjid di Indonesia

gomuslim.co.id- Masjid merupakan tempat ibadah sekaligus pusat peradaban umat Islam. Sebagai komunitas besar di kawasan Asia, Muslim selalu mempelopori ajaran kebaikan dan toleransi beragama. Hal ini berawal dari gerakan dakwah dari Masjid, salah satunya Masjid Agung Jawa Tengah (MJAT).

Demikian disampaikan Duta besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson saat mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Selasa (24/01) siang kemarin sekitar pukul 14.00 WIB. Ia mengaku senang bisa mengunjungi MAJT sebagai tempat penting bagi pusat peradaban Islam di Kota Semarang.

Kehadiran Paul Grigson disambut hangat oleh KH Ahmad Darodji Ketua MUI Jateng dan Dewan Pembina MAJT KH Ali Mufiz. “Saya dua tahun berada di Indonesia, dan sudah mengunjungi 43 masjid termasuk MAJT ini. Rencana saya pada akhir tahun 2017, saya sudah mengunjungi 50 masjid,” ujar Paul.

Selain itu, Paul juga mengatakan bahwa komunitas muslim di Australia sangat besar. Dia menyebut ada kira-kira 500 ribu jiwa beragama Islam di Negeri Kanguru tersebut. “Di Australia sampai akhir tahun 2016 sudah ada 175 masjid. Menurut saya umat Islam Indonesia dan Australia sama, mereka tidak terlalu memikirkan politik. Mereka membicarakan tentang pendidikan. Itu yang membuat saya tertarik mendatangi masjid,” paparnya.

Duta Besar Australia tersebut mengaku ingin menyuarakan toleransi atau beragama untuk Australia dan Indonesia. “Saya sangat terkesan toleransi beragama yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia ataupun di Australia, hal ini harus saya suarakan, karena ini sangatlah positif," ungkapnya.

Lebih lanjut, Paul menuturkan alasan dirinya mengunjungi masjid-masjid yang ada di Indonesia adalah untuk memahami komunitas masjid. Paul Grigson bersama rombongan mengunjungi MAJT selama kurang lebih dua jam dan melakukan tanya jawab dengan para kiai serta pengurus dilanjutkan dengan berkeliling di MAJT.

Dia mengatakan kunjungan ke masjid-masjid di Indonesia ini sangat penting, karena Australia juga mempunyai komunitas muslim serta memiliki 175 masjid. Sehingga ingin mengetahui sosial masyarakat muslim Indonesia. “Seperti di Australia juga ada kelompok muslim, sehingga alasan saya mengunjungi masjid-masjid di Indonesia,” katanya.

Dalam kunjungannya selama ini ke masjid-masjid di Indonesia, Paul melihat selalu ada kegiatan sosial untuk membantu masyarakat sekitar. Hal tersebut juga sama dengan yang dilakukan gereja-gereja dan masjid di Australia. “Selalu ada fokus masyarakat di masjid dan mirip dengan Australia dan hal kedua di masjid secara umum tidak peduli dengan politik,” ucapnya.

Dia menyebutkan kelompok muslim yang paling besar adalah lahir di Australia dan jumlahnya lebih dari 40 persen Warga Negara Australia muslim secara total. Untuk menanggapi pandangan masyarakat barat tentang Islam yang tidak positif, Paul menjelaskan banyak masyarakat dunia yang sudah mengenal Indonesia pasti memiliki pandangan bahwa Islam di Indonesia mempunyai toleransi dan keanekaragaman.

“Kalau orang yang sudah mengenal Indonesia pasti ada pandangan postif bahwa ada toleransi dan keanekaragaman,” imbuhnya.

Sementara itu Dewan Pembina Masjid Agung Jawa Tengah Ali Mufiz menyatakan, bahwa masjid merupakan destinasi peradaban yang didalamnya ada tiga hal. Yakni sikap toleransi, keadilan dan kemakmuran. “Dan tiga hal itu yang akan dilakukan Masjid Agung Jawa Tengah,” tandasnya. (njs/dbs) 


Back to Top