Tingkatkan Kualitas Pendidikan Islam, Kemenag Targetkan Semua UIN Terakreditasi A pada 2019

gomuslim.co.id- Sebagai lembaga pendidikan Islam tingkat universitas, kampus Universitas Islam Negeri (UIN) menjadi bagian penting bagi perkembangan keilmuan Islam di Indonesia. Baru-baru ini,  Kementerian Agama menargetkan semua UIN mendapat akreditasi A pada tahun 2019.
 
Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kamarudin Amin Direktur Jenderal Pendidikan Islam dalam Rakor Bedah RKA-KL Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Dikti) yang digelar di Tangerang Selatan. Untuk merealisasikan target tersebut, Kamaruddin meminta jajarannya untuk menyiapkan treatment dan persiapan secara sistematis dari sekarang. Di hadapan Pejabat Eselon II, III dan IV Dikti, Guru Besar UIN Alaudin Makasar menegaskan, target akreditasi A UIN harus terrefleksi pada program dan kegiatan tahun 2017 dengan target capaian per-tahun yang jelas hingga 2019.
 
Kata Kamarudin, grand desain akreditasi PTKI menurut saya menjadi penting sehingga menjadi panduan sistematis agar target-target akreditasi tidak meleset. Karena itu, untuk mengawali hal ini, harus ada pendataan yang akurat dengan keberadaan data penting untuk dasar dalam merumuskan langkah strategis dalam mensupport proses akreditasi PTKIN.
 
"Harus diidentifikasi dengan baik data-data PTKIN yang telah terakreditasi A, B dan C dari total PTKIN yang berjumlah 56 lembaga," katanya.
 
Rakor Bedah RKAKL Dikti dimaksudkan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program untuk memastikan rencana kegiatan yang dilakukan tepat sasaran.Kegiatan ini dihadiri juga oleh Sekretaris Ditjen Pendis M. Ishom Yusqi, serta seluruh Kasubdit dan Kasi dilingkungan Direktorat Pendidikan Tinggi serta sejumlah JFU.
 
Adapun, salah satu program yang disorot adalah pengiriman dosen ke luar negeri, seperti postdoctoral. Menurut Kamaruddin, para dosen yang telah dikirim ke luar negeri harus dievaluasi untuk mengetahui hasil yang telah didapat, khususnya bagi peningkatan pembelajarn di kampus tempat mereka mengajar. Untuk itu, harus ada instrumen untuk melakukan evaluasi.
 
"Kita lemah di sini. Apa kepentingan ke luar negeri, kriteria yang mengikuti. Misalkan memperkenalkan Islam Indonesia. Misalkan setelah pulang dari luar negeri harus menulis junal internasional. Harus terukur. Instrumen didiskusikan bersama," ujarnya.
 
Program lainnya adalah pembibitan alumni PTKI untuk memperdalam bahasa asing. Kamaruddin meminta pelaksanaan program ini bisa menjadi supporting program 5000 Doktor, utamanya untuk target pendidikan di luar negeri.
 
Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bakhtiar menambahkan pada aspek penguatan kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, program Dikti 2017 juga memberikan ruang Study Mobility Program untuk mensupport mahasiswa mengikuti even-even internasional. Amsal memandang perlu optimalisasi Pusat Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni PTKI, Pengembangan Mahasiswa di Mahad al-Jamiah, serta Evaluasi dan Pembinaan Mahasiswa Asing yang studi pada PTKI.
 
Terkait pelaksanaan Pekan Ilmiyah Olehraga Seni dan Riset (PIONIR) di IAIN Ar-Raniri Aceh, Amsal meminta agar bisa didesain dengan lebih baik. Harapannya, even itu bisa menjadi ajang aktualisasi mahasiswa PTKI di bidang intelektual, olahraga dan seni, serta riset. (fau/kemenag)

Back to Top