Punya Santri dari Luar Negeri, Pondok Pesantren Ini Jelaskan Kitab Kuning dengan Tiga Bahasa

gomuslim.co.id- Santri merupakan sebutan bagi seseorang yang belajar dan mengikuti pendidikan di sebuah pondok pesantren. Santri biasanya mengaji dan menimba ilmu agama dari Alquran, Hadits dan kitab kuning sebagai rujukan. Dari semua itu, santri biasanya berasal dari seluruh pelosok negeri.

Namun ada pemandangan unik di pesantren asal Mojokerto, Jawa Timur ini. Namanya Pesantren Amanatul Ummah. Di pesantren ini, santrinya tidak hanya berasal dari Indonesia saja, melainkan juga ada santri dari luar negeri seperti Kazakhstan, China, Malaysia, dan Thailand.

Pengasuh Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saefuddin Chalim mengatakan bahwa dia selalu memberikan pengajian kitab Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyah yang disusun Sayyid Ahmad Al-Hasyimy. Menariknya, pengajian kitab ini menggunakan tiga bahasa sekaligus yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.

Pengajian kitab yang selalu dilaksanakan selepas shalat subuh berjamaah itu menjadi rutinitas sendiri di masjid pesantren. Hal ini juga dilakukan karena tidak semua santri mancanegara di pesantren tersebut bisa berbahasa Indonesia.

Untuk diketahui, para santri dari mancanegara ini adalah santri yang kuliah di kampus Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto. Mereka sekaligus menjadi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari kampus yang masih berusia kurang dari dua tahun ini.

Pada Sabtu pagi (28/1) lalu misalnya, Kiai Asep membacakan hadits ke-503 di halaman 64 dalam kitab tersebut. Hadits ini mengulas tentang tiga orang yang di hari kiamat tidak dipandang dan tidak disucikan oleh Allah. Hadits ini semula diartikan dalam bahasa Indonesia, kemudian diartikan dan dijelaskan maksudnya lagi dalam bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Di antara golongan yang merugi tersebut adalah seseorang yang memiliki kelebihan air namun tak memberikannya kepada ibnu sabil (orang dalam perjalanan), dan orang yang berbaiat atau melakukan sumpah setia kepada pemimpin hanya untuk kepentingan duniawi. “Sekarang ini sudah terjadi," kata kiai di hadapan para santri yang memadati masjid pesantren.

Abdur Rijal, salah seorang mahasiswa di kampus setempat mengaku senang dengan cara yang digunakan Kiai Asep dalam forum pengajian. “Ini pengajian yang luar biasa karena sekaligus dengan pengajian ini saya juga belajar tiga bahasa," ujar mahasiswa asal Papua yang kerap dimintai tampil dalam tilawatil Qur’an ini.

Sementara itu, di tempat berbeda, Pondok Pesantren Al-Khoirot, Malang, Jawa Timur menerima calon santri yang berasal dari luar negeri atau pelajar internasional (international student) seperti dari Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand (Pathani), dan Arab Saudi yang ingin belajar mengaji di pesantren tersebut.

Dalam website resminya, pesantren ini menyebutkan bahwa hal yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa santri yang ingin ikut belajar lebih dari 1 (satu) bulan harus mengajukan permohonan visa pelajar atau ijin tinggal sementara (ITAS) ke Kedutaan atau Konsulat Indonesia terdekat. Untuk bisa mendapatkan ijin visa ini, calon santri harus mengirim data diri atau scanned ID Card atau Passport atau Iqomah, kirim via email ke: admin@alkhoirot.com. (njs/dbs)


Back to Top