Gandeng Museum Louvre Paris, Begini Konsep Museum Seni Islam Jakarta Islamic Center

gomuslim.co.id- Pengumpulkan koleksi peninggalan sejarah Islam kuno dapat menjadi medium untuk memahami Islam dan sejarahnya. Dengan menghadirkan koleksi dari sejak awal hadirnya Nabi Muhammad hingga berabad-abad kemudian dapat menjadi pintu masuk menelusuri kekayaan peradaban Islam, sehingga terbentuk alur sejarah Islam yang membumi dari berbagai penjuru dunia.

Departemen Seni Islam dari Museum Louvre, Paris, Perancis Yannick Lintz, saat kunjungannya ke Jakarta akhir pekan lalu membahas mengenai tindak lanjut rencana pembangunan museum seni Islam yang akan dibangun di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara.

“Saya datang ke Jakarta untuk proyek Museum Seni Islam di Jakarta Utara. Kunjungan ini menindaklanjuti agenda pada September 2015 lalu, ketika pihak JIC Jakarta menemui saya di Louvre,” ujarnya.

Museum Louvre termasuk dalam museum terbesar dunia, dan koleksi seni Islam salah satu koleksi penting yang ada di dalamnya. Ada sekitar ribuan koleksi yang dipamerkan di ruang baru dengan luas sekitar 3000 meter square.

Koleksi yang terdapat di dalamnya tidak hanya objek tunggal, juga disertai dengan cerita narasi, dan disusun secara kronologis dan geografis. “Koleksi kami memiliki keberagaman objek yang berasal dari Mesir, Suriah, Spanyol, India, dan koleksi besar dari Iran,” ujarnya.

Sementara itu, Kiai Ahmad Sobri, Kepala Jakarta Islamic Center (JIC) mengatakan saat ini gedungnya sudah ada tinggal menunggu anggaran, rencananya dibuka 2018, sedangkan Gedung Jakarta Islamic Center sendiri berada di Tugu Utara Koja, Jakarta Utara. 

“Museum sudah ada dari era Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, akan tetapi baru dapat diwujudkan tahun ini, konsep museum ini tentang kebudayaan dan peradaban muslim, serta bagaimana Islam di Indonesia, ini yang akan kami ceritakan,” paparnya. 

Ahmad mengatakan saat pihak delegasi JIC bertemu Lintz di Paris beberapa waktu lalu di museum Louvre Paris, mereka meyakini koleksi dan sejumlah rekam jejak Islam di museum itu lebih besar dari Indonesia.

“Saya melihat Museum Louvre, dan menemukan yang tidak ada di Indonesia ternyata ada di Paris, seperti kitab kuno, cerita tentang nabi Muhammad, dan kitab Alquran asli, ada di sana,” papar Ahmad. 

Melalui pengamatannya, Ahmad beranggapan Louvre juga memiliki koleksi yang beragam dari sejarah Islam, termasuk cerita perjuangan Islam masa silam. Selain di Paris, ia juga melihat koleksi yang mengesankan di Turki. 

“Baju yang dipakai sahabat Nabi, dan pernah di pakai Nabi Muhammad ada di sana, sangat mengesankan,” imbuhnya.

Lanjut Ahmad, museum seni Islam di JIC sedang dalam tahap penyetujuan anggaran untuk diisi oleh sejumlah koleksi. Jika pemerintah daerah menyetujui proposal yang mereka ajukan, maka koleksi ini kemudian akan dapat dipamerkan. 

Koleksi museum berasal dari sejumlah negara Islam, dan juga ada yang dari Leiden, Belanda. “Ada lima manuskrip dari Leiden yang akan diproses digitalisasi. Lalu, ada mimbar tua, miniatur masjid-masjid, dan mazhab Alquran,” tambah Ahmad. 

Selain itu, beberapa koleksi dari museum luar negeri akan mengalami proses digitalisasi terlebih dahulu, termasuk koleksi yang memuat perjuangan Nabi Muhammad dan peninggalannya.

“Kami berharap agar pengunjung dapat melihat museum ini sebagai gambaran miniatur Islam yang memuat sejarah dan dunia Islam, lewat objek yang disertai audio visual,” pungkasnya. (nat/dbs)


Back to Top