Peace Goes To Campus: Ini Pentingnya Media Sosial Sebagai Sarana Dakwah Islam yang Damai

gomuslim.co.id- Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (FIDK) UIN Jakarta bekerjasama dengan The Asian Moslem Action Network (AMAN) Indonesia menggelar stadium general (kuliah umum) ‘Peace Goes to Campus’. Kegiatan talkshow bertajuk ‘Peace Jihad di Sosial Media’ ini digelar di Ruang Teater Prof Dr Aqib Suminto lantai dua FDIK UIN Jakarta, Selasa (31/01).

Acara yang dimulai dengan nonton bareng film dokumenter ‘Jihad Selfie’ berdurasi 49 menit ini menghadirkan empat narasumber utama. Mereka adalah Dr Phil Idamsyah Eka Putra (Pusat Riset Ilmu Kepolisian UI Jakarta), Sarah Hajar (Indonesian Muslim Crisis Center atau IMC2), Ghfron (AMAN Indonesia), dan Savic Ali (Founder Islami.co).

Dalam sambutannya, Ketua Prodi PMI UIN Jakarta Wati Nilamsari mengatakan kegiatan terselenggara atas kerjasama prodi PMI dengan AMAN. “Persoalan berita radikalisme semakin mengkhawatirkan. Untuk itu, melalui kuliah umum ini kita akan berdiskusi tentang bagaimana menyebarkan isu perdamaian untuk melawannya,” katanya.

Pada kesempatan sama, perwakilan dari AMAN Siti Hanifah menuturkan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengkampanyekan Islam ramah dan damai. “Saya yakin mahasiswa ini bisa menjadi tonggak utama atau fasilitator handal untuk menyuarakan Islam Rahmatan Lil Alamin,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi Dr Arif Subhan MA yang didaulat sebagai Keynote Speaker mengungkapkan media sosial mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi masyarakat di era global. “Kita harus lebih cerdas dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Pemanfaatan media sosial sangat memungkinkan untuk mensyiarkan Islam yang damai,” tuturnya.

Sebelum talkshow, acara diselingi dengan sosialisasi see it report it (SIRI) yang disampaikan oleh Muhamad Fanani. Ia menjelaskan bahwa SIRI merupakan sebuah laman tutorial sederhana tentang bagaimana menghapus, melaporkan, atau memblok konten yang mengandung unsure radikalisme dan fitnah di media sosial.

“Saat ini media sosial telah menjadi gaya hidup khususnya bagi kalangan generasi muda. Maraknya informasi bohong (hoax) sering kali menjadi pemicu konflik di masyarakat. Jadi melalui laman ini, siapa pun bisa melaporkan bila ada konten yang tidak kredibel atau hoax. Semakin banyak yang melaporkan, maka pihak dari penyedia dapat memblok konten,” paparnya.

Sementara itu, dalam pemaparannya phil Idamsyah mengatakan kebebasan masyarkat untuk membuat konten di media sosial tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. “Apalagi setiap konten yang telah disebarkan siapa pun yang mempunyai akun, itu sudah menjadi konsumsi publik. Kita tidak bisa mengubah ideologi seseorang, tetapi dengannya kita dapat berdiskusi, mengajak untuk lebih berpikir positif,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Idam, perbedaan cara pandang setiap orang merupakan hal biasa dan pasti terjadi. Namun bagaimana menyikapinya dengan pikiran yang lebih terbuka. “Banyak orang pintar tapi tidak kritis. Padahal, berpikir kritis ini penting supaya tidak mudah dikelabui,” tambahnya.

Adapun dalam pandangan Ghufron, membangun perdamaian di media sosial sangat penting untuk dilakukan khususnya dikalangan muda. Menurutnya, mengajak kalangan muda merupakan salah satu strategi menyebarkan perdamaian. “Gelombang radikalisasi ini tidak bisa dicegah jika generasi muda memilih diam untuk menyuarakan perdamaian. Untuk itu akan sangat baik jika bersatu dan bersepakan menyuarakan nilai-nilai baik dari agama,” paparnya.

Ghufron menambahkan AMAN sendiri mempunyai beberapa strategi untuk menyuarakan peace media ini. “Pertama, kita ada peace leader. Kita menjaring beberapa sekolah dan kampus untuk bersepakat, kerjasama menyebarkan toleransi dan perdamaian. Kedua, perkuat kohesi sosial. Ini dengan memperkuat keragaman Indonesia yang berbeda-beda tetapi saling menghargai. Dan yang ketiga, promosi tafsir teks Islam damai untuk digelorakan,” jelasnya.

Pembicara ketiga, Sarah Hajar memberikan beberapa tips melawan berita-berita hoax dengan membuat konten di youtube dengan akaun Asikin Aja. “Kita bikin video dengan kemasan yang fun, unik dan menarik. Ini supaya kita tidak gampang membagikan berita-berita yang ternyata hoax,” ungkapnya.

Sedangkan Savic Ali menyampaikan bahwa media sosial sangat bisa dimanfaatkan untuk aktifitas dakwah Islam yang moderat dan menjunjung tinggi perdamaian. “Kampanye di media ini penting untuk mengontrol pikiran manusia. Mengapa banyak postingan bernada kebencian di media sosial? Ya salah satunya karena kelomok-kelompok moderat justru memilih diam,” ucapnya. (njs)


Back to Top