Ini Harapan Baru untuk Umat Muslim Georgia

gomuslim.co.id- Georgia merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian tenggara. Masuknya Islam di Georgia diperkenalkan pada tahun 645 Masehi ketika tentara yang dikirim oleh Khalifah kedua Islam, Umar, menaklukkan Georgia Timur dan mendirikan negara Islam di Tbilisi.

Jumlah penganut Islam di Georgia tercatat 463.062 jiwa atau 9,9%, dari keseluruhan jumlah penduduk Georgia, dan merupakan komunitas keagamaan terbesar kedua di Georgia, setelah Gereja Ortodoks. Menurut sumber lain, komunitas Muslim membentuk 10 sampai 13% jumlah penduduk Georgia.

Ajaran Islam di Georgia terbilang memiliki pengaruh yang besar. Di negara itu terdapat sedikitnya tujuh madrasah (sekolah agama Islam).  Umat Islam di Georgia ada yang beraliran Suni dan ada pula yang Syiah. Kedua penganut aliran dalam Islam itu hidup saling berdampingan.

Namun, Islamofobia masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di Georgia. Masyarakat Georgia  banyak yang khawatir terhadap ideologi Islam dan pengaruh luar yang dapat menyebabkan kekerasan internal. Keberadaan  Muslim Chechec Kists kerap kali menjadi suatu sumber ketegangan politik antara Georgia dan Rusia.

Di bawah kepemimpinan Mikheil Saakashvili, pemerintahan mulai memperhatikan aspirasi umat Islam. Baru-baru ini, Saakashvili menyerukan agar izin pembangunan masjid di Georgia tak boleh lagi dipersulit. Sebelumnya, umat Islam sangat sulit untuk membangun masjid karena proses perizinannya begitu sulit.  

Saakashvili mengatakan dengan menolak pembangunan masjid di Georgia, sama artinya menolak hak ratusan ribu Muslim yang tinggal di wilayah ini  untuk menjadi warga negara Georgia, melalui  saluran televisi PIK.

“Mendirikan masjid bukanlah masalah agama, tapi hak seluruh penduduk Georgia untuk beribadah. Mereka tidak dapat ditolak haknya untuk mempraktikkan tradisi agama mereka,” ujar Saakashvili.

Walaupun pada kenyataannya kebijakan Saakashvili itu banyak ditentang masyarakat non-Muslim. Lanjutnya, sangat mudah untuk membuang slogan populis, tapi kita harus memiliki sikap tanggung jawab terhadap sesama warga negara kita terlepas dari identitas agama dan asal usulnya.

Pemerintah Georgia pun tidak tinggal diam, pihaknya menandatangani kesepakatan dengan Turki. Kesepakatan itu berupa mempermudah perizinan pembangunan mssjid di Georgia dan perbaikan gereja di Turki.  Kebijakan Presiden Mikheil Saakashvili itu tentu menjadi angin segar bagi umat Islam Georgia di tengah merebaknya Islamofobia di negara tersebut.

Namun demikian, seperti yang dilansir dari publikasi Caucaz, Muslim Georgia tak lantas mudah dalam menjalankan keidupan beragama, sebagai minoritas umat Islam cenderung untuk sulit diakui dalam ideologi nasional baru Georgia. (nat/dbs)

 


Back to Top