Inilah Pembalut Bersertifikat Halal di Indonesia

gomuslim.co.id- Produk bersertifikat Halal LPPOM MUI kini tengah meramaikan pasar Indonesia, sejumlah merek mengajukan sertifikasi karena dinilainya mampu meyakinkan konsumen akan kualitas terbaik karena telah teruji halal dikonsumsi.

Baru-baru ini, PT. Softex Indonesia sudah memastikan diri memiliki sertifikat Halal MUI di awal tahun 2017 ini. Produk yang sudah berhasil disertifikasi halal adalah pembalut wanita Softex, diapers sekali pakai Sweety dan Happy Nappy, seperti yang dilansir dari publikasi halalcorner.

Pertanyaan yang ditimbulkan terkait produk tersebut harus bersertifikat Halal adalah, muncul pertanyaan, mengapa produk pembalut dan popok sekali pakai yang nanti akan terkena najis juga butuh sertifikat halal?

Pihak dari LPPOM MUI, Muti Arintawati mengungkapkan kalau bahan dan proses pembuatan produk bisa saja terpapar najis. Sehingga sertifikat Halal berfungsi untuk memberi jaminan dan memberi tahu pada khalayak telah dilakukan analisis mendalam oleh pihak terkait. Bahwa dalam proses produksi produk secara keseluruhan tak ada paparan najis.

Muti melanjutkan, pada akhirnya pembalut dan popok juga akan terkena najis, baik darah, urine, maupun kotoran. Namun jika pembalut dan popok tersebut mengandung bahan najis atau dalam pembuatannya terpapar najis, maka proses pencuciannya jadi harus mengikuti hukum yang ada seperti harus dibasuh tujuh kali.

Menurutnya, pembalut wanita termasuk dalam kategori produk barang gunaan. Untuk bisa mendapat sertifikat Halal tentu berdasarkan kriteria khusus. Hal yang paling utama yakni, material yang digunakan tidak mengandung bahan najis dan najis berat seperti babi.

Proses pemberian sertifikat sendiri sama seperti produk gunaan lainnya. Pihaknya meninjau material utama yang digunakan, fasilitas dan proses produksinya sehingga dalam produksi ini akan terlihat apakah ada kontaminasi najis atau tidak.

“Untuk menjaga kebersihannya kami juga mendatangi tempat pembuatannya,” ujar Muti.

Ada 11 kriteria yang ditinjau MUI untuk mengantongi izin sertifikat Halal,  sedangkan tiga yang utama adalah bahan, proses produksi dan fasilitas. Jika dalam salah satu kriteria ada paparan najis maka sertifikat tak bisa dikeluarkan.Termasuk, apakah perusahaan tersebut juga memiliki tim sendiri untuk memonitoring aspek kehalalan.

“Jadi selain kami yang memeriksa, tiap perusahaan juga harus memiliki tim internal,” jelasnya.

Dengan adanya sertifikasi pembalut dan popok Halal, lantas ada pertanyaan yang timbul, lalu apakah produk lain yang belum bersertifikat Halal termasuk haram.

Muti menjelaskan, bahwa pihaknya hanya beranggapan produk tersebut belum bersertifikat Halal, dan bukan berarti termasuk haram. “Karena untuk mengatakan Halal dan haramnya suatu produk, perlu dilakukan pemeriksaan berdasarkan standar yang kami miliki,” tukasnya.

Setiap produsen yang mengajukan sertifikasi Halal bagi produknya harus melampirkan spesifikasi dan sertifikat Halal bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong serta bahan aliran proses. Surat keterangan itu bisa dari MUI daerah (produk lokal) atau lembaga Islam yang diakui oleh MUI (produk impor) untuk bahan yang berasal dari hewan dan turunannya.

Setelah itu, tim auditor LPPOM MUI melakukan pemeriksaan dan audit ke lokasi produsen yang bersangkutan serta penelitian dalam laboratorium yang hasilnya dievaluasi oleh rapat tenaga ahli LPPOM MUI yang terdiri dari ahli gizi, biokimia, pangan, teknologi pangan, teknik pemrosesan, dan bidang lain yang berkait. Bila memenuhi persyaratan, laporan akan diajukan kepada sidang Komisi Fatwa MUI untuk memutuskan kehalalan produk tersebut.(nat/mui/dbs)

 

 


Back to Top