Layani Uji Produk Halal, Pusat Kajian Halal ITB Komitmen Dukung MUI

gomuslim.co.id- Kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk-produk halal kini perlahan mulai meningkat. Seiring dengan hal tersebut, saat ini banyak lembaga yang fokus mengkaji tentang kehalalan sebuah produk, baik makanan, minuman, obat-obatan maupun kosmetik. Salah satunya adalah sebuah lembaga di perguruan tinggi yaitu Pusat Kajian Halal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pusat Kajian Halal ITB ini menyediakan pakar dan peneliti lintas keilmuan serta laboratorium untuk menguji produk barang dan jasa yang halal. Hadirnya lembaga ini semakin menambah daftar peneliti dan pengkaji halal setelah Majelis Ulama Indonesia dan Kementerian Agama dari pemerintah.

Menurut Ketua lembaga tersebut, Tati Syamsudin, pihaknya tidak bersaing dengan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). “Kami bekerja sama dengan MUI untuk pemeriksaan, sertifikat halalnya tetap yang mengeluarkan MUI,” ujar Tati, Kamis (02/01) kemarin.

Untuk diketahui, Pusat Kajian Halal ITB sendiri didirikan pada 14 Desember 2015 lalu. Bertempat di dalam kampus ITB, lembaga itu juga melayani rancangan produk jasa untuk pariwisata halal. “Pusat ini mengkoordinir akademisi dan kelompok di ITB yang bekerja untuk mendukung produk halal,” kata dia.

Beberapa yang terjaring dalam lembaga ini di antaranya peneliti teknologi nano, pakar farmasi, laboratorium mikrobiologi, kimia, dan studi pariwisata. Aturan memperbolehkan kampus membuat lembaga pengujian halal itu dan Rektor ITB mendukung penuh.

Bahkan, dalam sebuah kesempatan Wakil Rektor Riset, Inovasi, dan Kemitraan ITB Bambang Riyanto Trilaksono menyatakan bahwa ITB telah berkomitmen untuk mengembangkan kajian halal. Hal tersebut direalisasikan dengan dibentuknya Pusat Kajian Halal ITB.

Selama setahun lebih pusat kajian halal ITB ini beroperasi, lanjut Tati, mayoritas pemeriksaan di lembaganya terkait dengan produk kuliner. Sementara untuk kategori obat dan kosmetika masih tergolong jarang. “Penerapan produk-produk farmasi harus berlabel halal itu baru akan dimulai pada 2019,” tambahnya.

Selain itu, Tati menilai pariwisata halal pun menjadi hal yang sangat penting. Beberapa indikator sesuai dengan jenis usahanya, antara lain seperti memasang tanda arah kiblat di kamar hotel dan memisahkan dapur serta peralatan memasak jika hotel menyajikan kuliner yang tidak halal bagi kaum muslim.

“Ketentuan seperti itu juga telah diterapkan di beberapa negara di Asia, seperti Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan, sebagai layanan dan daya tarik bagi turis muslim sedunia. Apalagi Indonesia merupakan Negara mayoritas Muslim, tentu kita harus siap bersaing dengan Negara mana pun, karena kita punya potensi lebih besar,” tandasnya.

Tahun lalu, Pusat Halal Salman-ITB telah menggelar Olimpiade Halal antar SMA/sederajat se-Jawa Barat, di area Masjid Salman ITB Kota Bandung. Dalam perhelatan tersebut, ITB menggandeng Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI). (njs/dbs)


Back to Top