Sempat Terjadi Miskomunikasi, Wakil Urusan Haji Iran Baru Penuhi Undangan MoU Arab Saudi Bulan Ini

gomuslim.co.id - Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengirimkan surat undangan untuk 80 negara terkait MoU pelaksanaan ibadah haji pada 2017. Sejak awal Januari lalu Kementerian yang dipimpin Mohammed Saleh Benten ini, menerima beberapa delegasi dari berbagai negara untuk mendiskusikan persiapan haji 2017 (1438 H). Beberapa negara yang sudah memenuhi undangan tersebut di antaranya Indonesia, Irak, Turki, Cina, Sudan, Mesir, dan lain sebagainya.

Seperti dikutip Alarabiya, sempat terjadi miskomunikasi antara pemerintah Arab Saudi dan Iran terkait undangan MoU haji tersebut. Pasalnya, Asharq al-Awsat sempat mengabarkan bahwa undangan tersebut disampaikan ke Kementerian Luar Negeri masing-masing negara. Pada kenyataannya, Kementerian Luar Negeri Iran belum menerima sama sekali undangan dari Kerajaan Arab Saudi.

Namun demikian, Ketua Lembaga Ikatan Mutawif Haji Iran Doktor Talal Qutub membenarkan bahwa Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sudah mengirimkan undangan untuk seluruh negara, termasuk Iran. “Bila 79 negara lainnya sudah menerima undangan dari Arab Saudi, namun Iran belum mendapatkannya, hal ini terasa aneh sekali,” pungkasnya.

Pada (17/01) Wakil Urusan Haji Iran, Ali Askar baru merespon undangan MoU yang dilayangkan Arab Saudi setelah melakukan rapat terbatas bersama para stafnya. Menurut Askar, Iran terlambat dua minggu menerima undangan MoU haji setelah diumumkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi pada akhir Desember 2016 silam.

Dalam surat yang dilayangkan Askar, Iran meminta agar Arab Saudi mempersiapkan dengan baik jaminan keamanan dan keselamatan para jemaah haji, khususnya jemaah haji Iran. Pasalnya, saat terjadi tragedi Mina pada 2015, tidak sedikit jemaah Iran yang menjadi korban.

Menurut Askar, Iran sudah mengirimkan beberapa nama delegasi yang akan diutus untuk membicarakan kesepakatan kerjasama urusan haji antara kedua negara ini. Pada (23/02) ini, delegasi Iran rencananya akan diberangkatkan ke Arab Saudi untuk menjajaki MoU haji ini.

Perlu diketahui, pasca tragedi Mina 2015 hubungan diplomatik kedua negara ini sempat memanas. Pada saat itu Iran bersuara keras menganggap Arab Saudi tidak mampu melayani dan menjaga keselamatan jemaah haji. Diplomasi bilateral kedua negara itu semakin memburuk ketika salah satu tokoh  Syiah ternama yang bermukim di Arab Saudi, Syekh Nimr al-Nimr, dieksekusi mati atas dugaan pemberontakan pada Sabtu, 2 Januari 2016.

Karena dua faktor di atas, hingga kini hubungan diplomatik antara kedua negara ini belum begitu stabil. Karena itu, miskomunikasi terkait undangan MoU haji yang dikirim Arab Saudi untuk Iran pun dapat dimaklumi. (ihs/dbs) 

 


Back to Top