Pengamat Asuransi Syariah: Asuransi Mikro Syariah Perlu Ditingkatkan

gomuslim.co.id- Kini pertumbuhan sektor asuransi syariah semakin meningkat. Ditinjau dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan tahun 2016, tingkat literasi dan inklusi asuransi syariah di Indonesia masih berada di bawah tiga persen.

Tingkat literasi asuransi syariah tercatat sebesar 2,51 persen, sedangkan tingkat inklusi sebesar 1,92 persen. Kontribusi asuransi jiwa syariah masih mendominasi, yakni Rp 26,5 triliun atau setara dengan 81,5% dari total aset perasuransian syariah.

Sementara aset dari industri asuransi umum syariah dan reasuransi syariah masing-masing Rp 4,6 triliun dan Rp 1,35 triliun. Bila dibandingkan dengan total aset industri perasuransian secara nasional, pangsa pasar asuransi syariah memang masih terbilang mini. Hingga November 2016, pangsa pasar asuransi syariah baru mencapai 3,44%, seperti yang dilansir dari publikasi kontan.

Karena rendah tingkat literasi dan inklusi tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan asuransi syariah di tanah air. Salah satu hal yang didorong untuk meningkatkan inklusi keuangan adalah melalui produk asuransi mikro syariah Si Bijak. Namun, perkembangan produk tersebut di masyarakat dinilai belum meluas.

Sementara itu, pengamat asuransi syariah M Syakir Sula menuturkan perkembangan asuransi mikro syariah saat ini sangat lambat, karena kurang berkembangnya asuransi mikro syariah sama seperti asuransi mikro di industri asuransi konvensional.

“Ini belum berkembang karena mereka ingin dapat untung besar, sementara mikro kan kecil-kecil,” ungkap Syakir.

Syakir menyarankan agar dapat lebih mendorong perkembangan asuransi mikro syariah Si Bijak, perusahaan asuransi syariah memiliki divisi asuransi mikro. “Jika perusahaan besar mengurusi yang skala kecil kan malas, maka sarannya perusahaan (asuransi syariah) yang besar punya divisi mikro,” imbuhnya.

Syakir menambahkan, kebutuhan masyarakat kecil akan produk asuransi yang terjangkau juga harus ditangkap oleh pelaku asuransi syariah, kebutuhan kecil juga harus disentuh dan itu long term business.

“Selain dapat bermanfaat bagi orang banyak, bisnis asuransi mikro juga berjangka panjang,” tambahnya.

Pertumbuhan aset perasuransian syariah terdorong dari pertumbuhan premi yang didapat pelaku usaha. Data per November 2016 mencatat, premi asuransi syariah Rp 10,9 triliun, naik 15,9% secara year on year (yoy).

Dana investasi yang dikelola pun ikut terkerek 28,8% dari Rp 21,8 triliun di November 2015 menjadi Rp 28,1 triliun di November 2016. Tapi beban klaim industri asuransi syariah ikut tumbuh 33,3% secara yoy menjadi Rp 4 triliun.

Sementara itu, menurut Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjuniadi menilai tahun ini masih menawarkan potensi bisnis besar bagi industri asuransi syariah. Karena itu, ia yakin pertumbuhan aset dan premi di tahun ini masing-masing bisa tumbuh 30% dan 20%.

“Namun ada pekerjaan rumah yang harus dibenahi, seperti diversifikasi produk agar lebih beragam," pungkasnya. (nat/dbs)

 


Back to Top