Didik Murid Berdemokrasi, Sekolah Muslim di AS Terapkan Kurikulum Pelajaran Politik

gomuslim.co.id- Pelajaran ilmu politik wajib didapatkan oleh setiap warga negara untuk menumbuhkan pandangan demokrasi yang luas. Hal ini turut diterapkan oleh Al-Noor Academy, sebuah sekolah Muslim di luar kota Boston, AS.

Sekolah tersebut menerapkan pelajaran politik. Pelajaran tersebut menjadi  salah satu dari aktivitas pertama organisasi politik Muslim yang baru terbentuk, Jetpac singkatan dari Pusat Advokasi Keadilan, Pendidikan, Teknologi, Kebijakan untuk mendorong aktivisitas politik di antara 3,3 juta warga Muslim yang mencakup 1 persen dari populasi AS, seperti yang dilansir dari publikasi Voice of Amerika (VOA)

Salah seorang murid kelas 2 SMA, Sarah Sendian, dirinya merasa senang mendapatkan ilmu baru mengenai politik.  

"Sebelum pemilu ini, saya betul-betul hanya tahu sedikit tentang politik, dengan adanya presiden baru dan semua hal yang terjadi, hal itu membuat banyak anak muda sangat tertarik,” ujar Sendian.

Selain Sendian, seorang anggota DPRD di Cambridge, Massachusetts, Nadeem Mazen mengaku ini saatnya umat Muslim maju. Sementara itu, pelajaran yang diterima murid-murid SMP dan SMA yang berjumlah 116 orang itu menekankan pada bagaimana membangun jaringan dengan orang-orang yang seide dan memunculkannya pada pertemuan-pertemuan publik, demonstrasi dan pemilihan umum untuk mengeraskan suara warga Muslim AS.

Ada sekitar 824.000 dari mereka terdaftar sebagai pemilih pada pilpres 2016, jumlah yang telah meningkat sekitar 60 persen dalam empat tahun terakhir, menurut kelompok advokasi Muslim nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR).

Selain itu, salah satu guru pelajaran mereka, Joe Florencio, mengingatkan murid-muridnya bahwa populasi imigran telah mengalami proses yang sama untuk aktif dalam politik. "Untuk berpolitik secara efektif, kamu harus tahu apa yang kamu lakukan," ujar Florencio.

Para murid di sekolah itu juga belajar mengenai pelajaran akademik standar Amerika Serikat termasuk sains dan matematika, juga Bahasa Arab dan Alquran, sebuah konsep yang memiliki kesamaan di kebanyakan sekolah-sekolah parokial di bagian timur laut AS.

Diharapkan langkah seperti itu dapat dijadikan versi-versi pelajaran ke sekolah-sekolah swasta dan negeri di Amerika Serikat untuk menghadapi perjuangan besar. Karena belakangan ini jumlah serangan anti-Muslim yang dilaporkan ke FBI tahun lalu melonjak ke tingkat tertinggi sejak 2001.

Hampir setengah responden jajak pendapat Pew Research Center tahun 2016 mengatakan mereka yakin setidaknya beberapa Muslim di AS memiliki sikap anti-Amerika, namun para responden yang kenal Muslim secara pribadi tidak begitu memiliki keyakinan tersebut.

Yousef Abouallaban, anggota komite sekolah Al-Noor yang dua putra tertuanya bersekolah di situ, mengatakan ia berharap pelajaran itu dapat membuka wawasan anak-anak imigran Muslim mengatasi bias yang dimiliki para orangtuanya yang tidak suka mereka terlibat dalam politik.

"Kami dibesarkan dalam budaya yang berbeda, dimana ada keyakinan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pemerintahan adalah orang-orang yang korup, namun kini tidak demikian, mentalitas tersebut harus diubah oleh umat Muslim di Amerika,” pungkas Abouallaban. (nat/dbs)

 


Back to Top