Syeikh dari Universitas Al-Azhar Mesir Apresiasi Kiprah Indonesia Tebarkan Kedamaian Islam

gomuslim.co.id- Sebuah apresiasi untuk Indonesia datang dari Mesir, Grand Syeikh Al Azhar Ahmed Mohammad Ahmed Al Tayyeb saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan penghargaan kepada Indonesia yang dinilai aktif menyebarkan ajaran nilai-nilai Islam yang damai.

“Indonesia dan Al Azhar akan bekerja sama untuk melakukan dialog antaragama dan antarkomunitas untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai,” ungkap Menlu Retno Marsudi, seperti dalam keterangan pers yang dijelaskan Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Selasa (07/02/2017).

Dalam pertemuan itu, Menlu Retno dan Grand Syeikh Al Azhar sependapat mengenai banyaknya tantangan yang dihadapi dunia Islam saat ini. Hal itu disampaikan Menlu Retno setelah bertemu dengan Syeikh Ahmed Mohammad Ahmed Al Tayyeb di Kompleks Al Azhar di Kairo, Mesir pada 5 Februari 2017. 

Karena itu, mereka berpendapat dibutuhkan kerja sama erat semua unsur di dunia Islam dalam menghadapi tantangan tersebut guna mendorong terciptanya kondisi kondusif bagi perdamaian, stabilitas dan pembangunan yang inklusif, tidak saja di negara negara Islam bahkan dunia.

“Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung upaya konstruktif bagi terciptanya harmoni, perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan dunia,” ujar Retno.

Tak hanya situasi di dunia Islam, Syeikh Al Azhar juga memberikan perhatian terkait keadaan di negara bagian Rakhine, Myanmar. Dia menyampaikan bahwa situasi di Rakhine sangat rumit dan tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan memberi fokus kepada kepentingan komunitas tertentu atau melalui teriakan atau seruan moral tanpa langkah konkret.

Syeikh Al Azhar Mesir menghargai langkah yang dilakukan Indonesia dan Menlu selama ini untuk mendukung Myanmar menyelesaikan masalah di Rakhine State melalui pendekatan yang inklusif.

Pihaknya berkeinginan agar menekankan pentingnya kerja sama dan koordinasi baik di Myanmar maupun bagi komunitas internasional yang ingin membantu. Sementara itu Al Azhar siap untuk bekerja sama dengan Indonesia, Myanmar dan negara lainnya membantu membuat situasi di Rakhine State lebih baik.

Pada kesempatan yang sama Menlu secara khusus menyampaikan penghargaan atas dukungan yang diberikan Al Azhar kepada sekitar 3.500 mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Al Azhar.

Menlu Retno juga meminta perhatian pihak Al Azhar terhadap perlindungan keamanan bagi para mahasiswa Indonesia mengingat terjadinya beberapa tindakan kriminal yang menimpa mahasiswa Indonesia. Menanggapi hal itu, Syeikh Al Azhar berjanji akan memperhatikan masalah perlindungan mahasiswa Indonesia dan berkoordinasi dengan otoritas keamanan.

Al-Azhar tidak membatasi atau bahkan melarang mahasiswanya untuk mempelajari keilmuan tertentu. Hal ini berbeda dengan apa yang diberlakukan oleh lembaga pendidikan Islam lainnya di jazirah Arab lainnya seperti Jordania, Madinah, dan Yaman, di mana kebebasan para mahasiswanya sangat dibatasi. Alih-alih mempelajarinya, buku-buku dan sumber pengetahuan lainnya yang tidak sejalan dengan kebijakan madrasah tidak tersedia di toko-toko buku, bahkan dilarang masuk ke negera tersebut. (nat/dbs)


Back to Top