Laznas LMI Optimalkan Zakat untuk Kesejahteraan Mualaf

gomuslim.co.id- Seseorang yang masuk Islam karena pilihan, seringkali  telah mengalami gejolak batin dan pertimbangan yang matang. Dia harus menundukkan hatinya untuk dapat menerima dan meyakini kebenaran baru. Selanjutnya, dia harus mempertimbangkan aspek sosial ekonomi sebagai konsekuensi atas pilihannya.

Untuk mencegah bergejolaknya hati para mualaf karena tak memiliki harta, sebagian zakat dialokasikan untuk mereka. Direktur Utama Laznas LMI, Agung Heru Setiawan, menyampaikan komitmennya untuk optimalisasi pemberdayaan mualaf dari pengelolaan zakat yang dihimpun di acara Konsolidasi Mualaf Center Indonesia (MCI) Yogyakarta, Jateng dan Jatim.

Agung mengemukakan bahwa sejak tahun 2015 Laznas Lembaga Manajemen Infaq (LMI) telah menjalin kesepakatan kerjasama dengan MCI Pusat. Laznas LMI sebelumnya juga telah memberikan bantuan untuk mualaf melalui program ekonomi, pendidikan dan kesehatan. 

Sejalan dengan proses mempelajari ajaran Islam, para mualaf seringkali mengalami berbagai macam masalah yang mana ini harus menjadi perhatian khusus oleh ummat Islam. Peran lembaga amil zakat untuk masalah mualaf pun harus lebih kuat.

Karena itu, salah satu asnaf yang berhak menerima zakat adalah mualaf. Zakat punya fungsi upaya untuk melembutkan hati sehingga mualaf mampu istiqomah dengan aqidah dan mandiri ekonominya.

"Laznas LMI sudah mengentaskan beberapa mualaf yang terlilit hutang, kemudian kita lanjutkan dengan pendampingan dan pembinaan. Laznas LMI juga memasuki daerah rawan aqidah di beberapa daerah rawan aqidah di Jatim salah satunya di daerah bukit Klepu Sooko Ponorogo, berupa pemberdayaan mualaf dengan usaha ayam petelur," ungkap Agung.

Selain itu, para mualaf pun perlu dilembut-lembutkan hatinya, karena itu dalam Islam, orang yang baru memeluk Islam dinamakan AI Mu'allafatu Quluubuhum sering disingkat mualaf atau yang harus dilembutkan hatinya.

Ketua Umum MCI Steven Indra Wibowo mengatakan bahwa MCI sangat terbantukan oleh Laznas LMI karenanya akan terus bersinergi untuk program-program pemberdayaan mualaf.

“Konsolidasi MCI ini semakin memperbesar kapasitas organisasi, mengokohkan gerakan dakwah dan mempererat Ukhuwah Islamiyah diantara para pengurus, pembina dan pendamping mualaf,” katanya.

Kemudian, sinergi program pemberdayaan dengan lembaga lain terus ditingkatkan termasuk dengan Laznas LMI. Melalui program ini diharapkan setiap Muslim yang mampu, wajib memberikan perlindungan kepada mualaf. Karena, apabila kehidupan seseorang menderita setelah menjadi mualaf, ini akan membawa citra buruk bagi Islam.

Di Indonesia, telah banyak yayasan dan organisasi yang mengurusi hal ini. Yayasan dan organisasi tersebut bukan hanya melakukan pendataan terhadap mualaf baru. Akan tetapi, juga memberikan serangkaian pelatihan untuk baca tulis Alquran, kajian hadits, dan upaya lain yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan mereka terhadap ajaran Islam guna memperteguh imannya.

Selain itu, juga diberikan bantuan ekonomi kepada mualaf yang membutuhkan. Bantuan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi mualaf. Agar mualaf yang tidak mampu, tidak selamanya mengandalkan hidup dari penerimaan zakat. (nat/dbs/mualafcenter)

 

 


Back to Top