Dikunjungi 23 Dubes Uni Eropa, Begini Jawaban PP Muhammadiyah Tentang Islam Indonesia

gomuslim.co.id- Islam memang menjadi agama terbesar di Indonesia. Meski menjadi mayoritas, tidak lantas menindas hak-hak kaum minoritas. Hadirnya organisasi masyarakat (ormas) Islam yang besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mempunyai peranan besar dalam menjaga kemajemukan dan keberagaman. Islam di Indonesia dikenal moderat, plural dan demokrasi.

Demikian disampaikan Duta Besar (Dubes) Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guérend saat bertemu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/02/2017. Hadir dalam kesempatan tersebut 23 Dubes dari negara-negara Uni Eropa dan disambut langsung oleh Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Pertemuan tertutup selama dua jam tersebut mendiskusikan tentang perkembangan Islam di Indonesia dan Eropa. Selain itu juga membahas kerja sama Uni Eropa dengan Muhammadiyah di berbagai bidang yang berkaitan dengan Islam di Indonesia.

Dubes Vincent mengatakan bahwa kesepakatan dan kerjasama tersebut dinilai sangat penting. Ia juga menilai Muhammadiyah, sebagai organisasi Muslim besar di Indonesia, tetap berkomitmen untuk memegang teguh Indonesia yang berasaskan Pancasila. “Intinya kami mendukung segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Muhammadiyah dalam menjaga pluralisme, demokrasi, dan kultur beragama di Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut, Vincent juga menegaskan bahwa tidak ada isu tentang Islamphobia di negara-negara Eropa. Faktanya, kata Vincent, sebagian besar komunitas Muslim di banyak negara-negara Eropa tidak terpengaruh atas gerakan Islam radikal.

"Sebagian besar komunitas Muslim tinggal di banyak negara Eropa. Negara itu sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka dapat terus berkembang meski mengalami kesulitan ekonomi dan tidak terpengaruh pandangan radikal," ucapnya.

"Dan Muhammadiyah, ia dapat memberikan contoh baik kepada Muslim di Indonesia, agar mereka tidak terlibat dalam setiap tindakan radikalisme dan tetap menjunjung tinggi prinsip Islam yang moderat. Bahkan sebulan sebelumnya, EU juga melakukan pertemuan dengan NU untuk membahas isu sosial, ekonomi, terkadang religi," tambahnya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan perwakilan Dubes Uni Eropa untuk Indonesia dan 23 dubes dari negara-negara yang ada di Eropa ingin berbagi pandangan dengan Muhammadiyah. Mereka juga banyak bertanya kepada Muhammadiyah tentang kondisi Indonesia dan hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Haedar mengatakan bangsa Indonesia setelah 70 tahun merdeka secara umum bisa hidup dalam pluralistis. Bisa menyerap demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) melebihi negara lain. Bahkan, Indonesia menjadi negara terbesar ketiga yang menganut sistem demokrasi. Masyarakat bangsa Indonesia bisa hidup dalam kemajemukan yang sesungguhnya. Ia menjelaskan, dari Sabang sampai Merauke masyarakat Indonesia bisa hidup dalam keragaman.

"Kita juga sampaikan hidup dalam keragaman seperti ini, dengan penduduk 250 juta tersebar di banyak ribuan pulau, selalu ada masalah. Tapi di negara lain juga ada masalah," ujarnya. Haedar juga menyampaikan kepada dubes dari Uni Eropa, bahwa Muhammadiyah punya pandangan selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di negara yang majemuk.

Kemudian, lanjut dia, peran Islam di Indonesia menjadi faktor integrasi sosial dan nasional. Ia mengungkapkan, bagaimana mungkin di negara yang mayoritas Muslim, Indonesia bisa menerima Pancasila sebagai dasar negara. Muhammadiyah menyebutnya sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, Indonesia negara Pancasila hasil konsensus nasional. Seluruh golongan tidak ada bedanya, yang besar maupun yang kecil.

Haedar menambahkan peran Muhammadiyah di Indonesia timur, contohnya membuat perguruan tinggi. Di Papua, Muhammadiyah punya empat Universitas. "Mahasiswanya juga 90 persen non-Muslim penduduk Papua, kita beri juga pelajaran agama sesuai agamanya masing masing," tuturnya.

Ada pun masalah-masalah yang timbul dinilai karena Indonesia memiliki kekayaan dan kearifan lokal di setiap tempat. Hal tersebut dianggap sesuatu yang wajar dan harus dihadapi. Tapi, masalah-masalah tersebut tidak merusak tatanan kebangsaan di Indonesia.

Dijelaskan Haedar, dubes dari Uni Eropa membahas kerja sama dengan Muhammadiyah. Mereka tahu Muhammadiyah bekerja di bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, dan aktif di isu-isu global seperti perubahan iklim dan perdamaian. Mereka mencoba untuk mengintensifkan kerjasama dengan Muhammadiyah dalam forum dialog. "Kemudian, kerja sama seperti pengiriman dosen dan seminar Internasional untuk membahas masalah global," imbuhnya. (njs/dbs/foto ilustrasi)

 


Back to Top