Tingkatkan Kualitas Lembaga Zakat, Sertifikasi Amil Zakat Dinilai Akan Jadi Solusi

gomuslim.co.id- Sebuah wacana sertifikasi amil zakat di lembaga-lembaga zakat dinilai pengamat zakat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Amelia Fauzia, boleh saja dilakukan asalkan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas para amil zakat.

Pihaknya menilai sertifikasi amil zakat sepertinya memang dijadikan alat untuk meningkatkan kapasitas individu amil zakat. "Mengingat banyak dari amil zakat yang baru nyemplung masuk ke lembaga zakat tanpa memiliki latar belakang memadai," tutur Amelia.

Namun upaya peningkatan kompetensi dan kualitas amil zakat, bisa dilakukan tidak hanya melalui sertifikasi. Misalnya saja melalui jenjang pendidikan non-formal seperti kursus. "Misalnya di Indiana University School of Philanthropy, selain ada program degree (master dan phd), ada pula kursus non-gelar tapi bersertifikat yang menunjang beberapa pekerjaan di lembaga filantropi, misalnya yang paling terkenal adalah kursus sertifikat fundraising," katanya. 

Menurutnya School of Philantrophy sudah cukup dikenal dan terkemuka. Baik dalam studi akademik, riset, maupun kursus keterampilan. "Jadi mereka yang memiliki sertifikat dari sana dianggap memiliki value plus dibanding yang tidak," ucap Amelia.

Namun, bila menempuh jalur sertifikasi, Amelia berpendapat, perlu dipikirkan matang agar lembaga sertifikasi tersebut independen. Dan diupayakan gerakan sertifikasi ini menjadi ajang peningkatan kualitas, dan tidak terjebak pada formalisasi.

Seperti diketahui, Forum Zakat telah mendapatkan pengesahan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi untuk mendirikan Lembaga Sertifikasi Keungan Syariah. Dengan lingkup khusus, yakni sertifikasi amil zakat di lembaga-lembaga zakat.

Sementara itu, pada Kamis, (06/02/2017) silam Forum Zakat (FOZ) menggelar Konferensi Zakat Nasional (KZN) 2017. Konferensi tersebut membahas upaya peningkatan profesionalisme para amil zakat di Indonesia.

KZN 2017 akan membuat rumusan skema kompetensi dan SKKNI amil zakat untuk diajukan ke pemerintah. Pertemuan ini merupakan forum tertutup khusus untuk 22 asesor kompetensi yang telah mendapatkan sertifikat dari BNSP. Dari pertemuan tersebut diharapkan akan segera tercipta standar sertifikasi kompetensi amil zakat.

Dengan adanya standar tersebut, profesi amil zakat akan masuk ke dalam sistem pengakuan kompetensi profesional secara nasional. Hal itu pun akan menciptakan kedudukan Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia yang terukur berdasarkan penguasaan standar kompetensi individu amil.

Selain itu, KZN 2017 juga akan menjadi tuan rumah High Level Meeting HRD Conference. Agenda tersebut merupakan pertemuan para pengambil kebijakan terkait Sumber Daya Manusia (SDM) dari seluruh Laznas dan LAZ dari Jawa Timur. 

Pertemuan ini akan memaparkan perkembangan sistem kompetensi amil zakat dan rancangan besarnya ke depan. Hal ini menjadi masukan yg sangat strategis bagi setiap pimpinan LAZ agar segera menciptakan kebijakan yang sinergi dan menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Pertemuan ini juga bisa menjadi ajang perluasan wawasan bagi pimpinan LAZ dan bidang SDM-nya agar memahami pengelolaan amil zakat yang ideal. (nat/dbs/foto:ilustrasi)


Back to Top