Penuhi Target Kinerja 2017, Bank Syariah Indonesia Genjot Dana Pihak Ketiga

gomuslim.co.id- Upaya mengembangkan industri perbankan syariah di Indonesia terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan mencari tambahan modal untuk pembiayaan lebih tinggi. Hal ini dinilai penting dalam rangka mendorong kinerja dan pertumbuhan lebih besar yang menjadi target pada tahun ini.

PT Bank Syariah Mandiri (BSM) misalnya. Anak perusahaan Bank Mandiri itu mematok target pembiayaan 10% sampai 12% untuk tahun 2017. Target tersebut terbilang sama dibandingkan pencapaian akhir tahun 2016 yang tumbuh 11,07% year on year menjadi Rp 55,38 triliun.

Selain pembiayaan yang dipatok tumbuh dua digit, pendanaan alias dana pihak ketiga (DPK) juga ditarget tumbuh 9% sampai 10%. Tahun lalu, pendanaan naik 12,71% menjadi Rp 69,94 triliun. “Pertumbuhan BSM akan difokuskan di segmen retail baik pertumbuhan tabungan untuk DPK dan retail financing, sedangkan untuk segmen wholesale akan tetap selektif pada segmen-segmen pilihan," ujar SVP Finance and Strategy BSM, Ade Cahyo, Rabu (15/02).

Ia menambahkan BSM juga embidik pertumbuhan laba sebesar 10% yoy. Untuk mencapai sejumlah target tersebut, bank syariah terbesar di Indonesia ini berencana mendapatkan tambahan modal berkisar Rp 500 miliar sampai Rp 1 triliun pada tahun ini. "Tambahan modal tersebut di luar tambahan dari suntikan pemegang saham maupun aksi korporasi lainnya," kata Ade.

Pada akhir tahun lalu, induk usaha BSM yaitu PT Bank Mandiri Tbk telah menyuntikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk memperkuat permodalan. Lewat penambahan modalnya yang masuk per Desember 2016 itu, modal disetor BSM menjadi Rp 2,4 triliun.

Sebelumnya, tren penurunan Non Performing Loan (NPF) atau penurunan rasio kredit bermasalah dipandang BSM masih bergantung pada kondisi makro ekonomi pada tahun 2017 seperti harga minyak, sawit dan batubara. Menurut Direktur Wholesale Banking BSM Kusman Yandi, jika harga komoditas tersebut belum pulih di tahun depan, dampaknya juga akan terasa oleh industri perbankan syariah terutama BSM.

Kusman juga mengatakan jika nyatanya NPF menanjak, mayoritas bank telah lebih dahulu melakukan upaya restrukturisasi pembiayaan. "Dengan begitu persentase NPF bisa ditekan," tutur Kusman.

Dia tetap optimis menjaga NPF di level 5 persen di tahun 2017. Adapun per kuartal III-2016 anak usaha PT Bank Mandiri Tbk ini mencatatkan rasio pembiayaan bermasalah masih sebesar 5,43 persen. "Kita tetap fokus di sektor industri, seperti sawit, industri pengolahan, konstruksi atau infrastruktur, pendidikan, kesehatan, multifinance, konsumer dan mikro," imbuhnya.

Sementara itu,  PT BNI Syariah juga membidik tambahan modal berkisar Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun pada tahun ini. Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono mengatakan, penambahan modal masih ada beberapa opsi, mulai dari strategic investor, IPO, sukuk maupun setoran modal dari induk.

Tahun lalu, BNI syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hal ini bisa dilihat dari laba bersih yang naik 21,38% menjadi Rp 277,3 miliar. Selain itu pembiayaan juga tumbuh 15,35% yoy menjadi Rp 20,49 triliun. 

Terkait NPF, ia menyebut kecenderungan menurun biasanya hanya sampai di bulan November. "Di akhir dan awal tahun, saya melihat akan ada kecenderungan naik, ini merupakan imbas dari akun yang terestrukturisasi baru terlihat di Desember," kata Imam. 

Imam juga menyebut, beberapa sektor yang akan menjadi penyumbang NPF tinggi antara lain pertanian, perkebunan dan kehutanan, pertambangan, industri pengolahan, listrik, air dan gas. Sebagai informasi, sektor listrik, gas dan air memang menjadi penyumbang NPF tertinggi yaitu sebesar 9,41 persen.

Meski begitu, angka tersebut menurun jika dibanding bulan Agustus 2016 sebesar 14,6 persen. Tidak hanya itu, sektor pertambangan juga berperan menyumbang NPF kepada industri perbankan syariah dengan rasio kredit bermasalah sebesar 8,34 persen per bulan September 2016. Sementara sektor pertanian menyumbang NPF sebesar 5,06 persen.

Kendati demikian, Imam tetap mematok NPF cukup rendah dibandingkan rata-rata industri sebesar 3,1 persen pada akhir tahun 2016, sementara saat ini NPF BNI Syariah di level 3 persen. "Untuk 2017 kita jaga maksimal NPF 3 persen," jelasnya. Kendati akan berdampak pada laba, Imam menyebut hal tersebut masih dapat termitigasi. (njs/dbs)

 


Back to Top