LAZISMU Luncurkan Klinik Apung untuk Permudah Akses Kesehatan Masyarakat di Maluku

gomuslim.co.id- Pelepasan Klinik Apung Said Tuhuleley untuk permudah akses kesehatan bagi masyarakat miskin mendapat perhatian serius dari LAZISMU. Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional, upaya mewujudkan layanan kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi.

Karena itu, Lazismu melalui program Klinik Apung Said Tuhuleley sebagai pengadaan floating clinic berupa Kapal Laut sebagai salah satu solusi dari permasalahan yang ada di Maluku terutama berkaitan dengan layanan kesehatan. Ini juga merupakan bagian dari penerapan program-program Lazismu di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

Direktur Utama LAZISMU, Andar Nubowo dalam acara pelepasan Klinik Apung di Pantai Mutiara Blok TG 7, Jakarta Utara, Jumat (17/02) mengatakan Klinik Apung ini merupakan klinik pertama yang digagas Lembaga Amil Zakat Nasional Lazismu.

“Dilengkapi fasilitas ruang tindakan (medis), ruang pemeriksaan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang selama ini tidak terjangkau di Maluku,” katanya. Sedangkan alsanan memilih daerah Maluku adalah berdasarkan data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) 2014, Maluku merupakan propinsi dengan jumlah tenaga kesehatan terendah, yakni hanya 1% dari total jumlah tenaga kesehatan se-Indonesia.

Klinik Apung Said Tuhuleley ini nantinya akan beroperasi untuk memberikan layanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat pesisir atau pulau-pulau di Maluku. Sesuai dengan kondisi geografisnya.

Dalam kesempatan tersebut Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Thohari menuturkan Maluku memiliki banyak pulau kecil dan terpencil yang harus ditempuh dengan jarak yang cukup jauh. “Pengadaan Klinik Apung ini akan sangat membantu masyarakat terpencil dalam mendapatkan pelayanan, baik kesehatan maupun pendidikan,” pungkasnya.

Adapun, pemilihan nama Said Tuhuleley bukan sebuah kebetulan. karena, Said dikenal sebagai ‘pejuang kaum marginal’ di lingkungan Muhammadiyah dan merupakan Putra Maluku asli, Saparua lebih tepatnya. Hajriyanto menambahkan, semasa menjadi Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah hingga berpulang pada 9 Juni 2015 lalu,

Said gigih menjalankan berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. Tidak hanya masyarakat miskin yang berduka dengan meninggalnya Said.

“Muhammadiyah pun merasa kehilangan kader terbaik yang getol membumikan konsep ‘’dakwah sosial’’ dalam praktik sehari-hari itu,” paparnya.

Untuk menghidupkan semangat melayani kaum dhuafa, Muhammadiyah menetapkan Said Tuhuleley sebagai nama klinik apung. Klinik Apung Said Tuhuleley dirancang di atas sebuah kapal dengan panjang keseluruhan 15 meter dan lebar 3,50 meter.

Pembuatan Klinik Apung Said Tuhuleley menelan dana sekitar Rp 2 miliar. Sumber dana pembuatannya diperoleh dari masyarakat yang telah mempercayakan donasinya melalui Lazismu. Ini belum termasuk biaya peralatan serta tim medis dan operasional lainnya. Lazismu optimis operasionalisasi klinik apung mendapat dukungan dari masyarakat. Selama ini masyarakat terbukti selalu mendukung program Lazismu yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan kaum dhuafa.

Klinik Apung ini dilepas keberangkatannya oleh Hajriyanto Y. Thohari, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang disaksikan langsung Ketua Badan Pengurus Lazismu Hilman Latief, jajaran ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, mitra-mitra Lazismu dari perusahaan, perbankan dan amal usaha Muhammadiyah.

Klinik Apung Said Tuhuleley akan mulai perjalanan panjangnya pada hari Sabtu subuh (18/02). Sejumlah kota pelabuhan seperti Jepara, Pasuruan, Mataram, Selayar dan Buru akan disinggahi sebelum merapat di Pelabuhan Ambon hari Kamis pekan depan (23/02).  Klinik Apung Said Tuhuleley akan diresmikan Presiden Joko Widodo bertepatan dengan pembukaan acara Tanwir Muhammadiyah pada hari Jumat (24/02) di Ambon. 
 
Untuk diketahui, LAZISMU adalah lembaga zakat tingkat nasional yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan secara produktif dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya.
 
Didirikan oleh PP. Muhammadiyah pada tahun 2002, selanjutnya dikukuhkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional melalui SK No. 457/21 November 2002.
 
Latar belakang berdirinya LAZISMU terdiri atas dua faktor. Pertama, fakta Indonesia yang berselimut dengan kemiskinan yang masih meluas, kebodohan dan indeks pembangunan manusia yang sangat rendah. Semuanya berakibat dan sekaligus disebabkan tatanan keadilan sosial yang lemah.
 
Kedua, zakat diyakini mampu bersumbangsih dalam mendorong keadilan sosial, pembangunan manusia dan mampu mengentaskan kemiskinan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi zakat, infaq dan wakaf yang terbilang cukup tinggi. Namun, potensi yang ada belum dapat dikelola dan didayagunakan secara maksimal sehingga tidak memberi dampak yang signifikan bagi penyelesaian persoalan yang ada. (fau/lazismu)

Back to Top