Singgung Pariwisata Halal, Ini Laporan Ekonomi Islam Global Periode 2016-2017

gomuslim.co.id- Pariwisata Halal menjadi tren di beberapa Negara. Hal demikian karena sektor ini merupakan salah satu penyumbang devisa Negara yang besar. Target meningkatkan kunjungan wisatawan muslim untuk berkunjung pun menjadi alasan berbagai Negara berlomba-lomba mengembangkan pariwisata halal andalannya.

Baru-baru ini, Thomson Reuters merilis sebuah Laporan Ekonomi Islam Global selama 2016-2017. Dalam penilaian global, Negara Uni Emirat Arab (UEA) menduduki peringkat pertama kategori tujuan perjalanan wisata halal terbaik. Posisi kedua dan ketiga ditempati Malaysia dan Turki dalam sistem peringkat.

Hasil tersebut dievaluasi berdasarkan data wisata Muslim yang masuk, kualitas ekosistem ramah halal, kampanye kesadaran, dan kontribusi sektor ini terhadap pekerjaan. Pasar wisata Muslim senilai 151 miliar dolar AS pada 2015 dan terus berkembang. Meningkat 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan angka tersebut melebihi pertumbuhan industri pariwisata keseluruhan yang hanya 3 persen.

Pariwisata halal di UEA memang sedang berkembang baik. Meski demikian, hal ini barulah awal tahap pengembangan di UAE. Direktur TRI Consulting (sebuah konsultan perjotelan) Rashid Aboobacker, mengatakan UEA sedang fokus mengembangkan pariwisata halal. Pemerintah setempat menawarkan produk dan layanan berbasis halal.

"Pasar pariwisata dan hotel halal di UAE cukup matang, kami berharap untuk melihat pengembang melihat peluang berbasis halal dan syariah dalam akomodasi dan fasilitas lainnya, untuk membedakan diri, berkompetisi dan menarik target pasar yang spesifik," kata dia sebagaimana publikasi dari Gulf News Tourism beberapa waktu lalu.

Aboobacker berharap segmen pariwisata halal di UEA tumbuh sebagai kekuatan kompetitif yang akan membantu pasar memperluas penawaran pilihan produk. Menurutnya, ada peluang pasar kuat untuk produk pariwisata halal dan syariah di UEA.

Hal ini didorong oleh sejumlah besar wisatawan, tidak hanya terbatas pada wisatawan Muslim, tetapi juga mereka yang datang ke sana untuk berbisnis. Mereka lebih memilih tinggal di hotel atau penginapan yang menyajikan makanan halal. UEA dan Arab Saudi merupakan pasar utama bagi perjalanan halal dengan nilai perkiraan konsumsi 34,3 juta dolar AS.

Terkait hal sama, Sekretaris Jenderal Forum Akreditas Halal Internasional Mohammad Badri mengatakan semakin banyak wisatawan Muslim menunjukkan preferensi kuat untuk tujuan dan jasa halal. "Tren kenaikan ini menyediakan peluang bisnis yang baik untuk industri. Namun, para pemangku kepentingan harus mulai menghadapi tantangan untuk membuat momentum dan meningkatkan kegiatan pariwisata," ujarnya.

Badri mengatakan tantangan utama yang mempengaruhi industri halal terutama yang relatif kampanye kesadaran yang lemah. Pasar Muslim, sebanyak 72 persen berasal dari Organisasi Negara-Negara Kerjasama Islam (OKI).

Sementara itu, di Tanah Air juga kini sedang menggalakkan wisata halal dan penetapan zona halal. Pemerintah tampaknya menyadari industri pariwisata merupakan industri jasa yang memberikan kontribusi penting bagi perekonomian nasional. Konsep Halal-Tourism kini dikembangkan di Aceh, Sumbar dan Lombok (NTB).

Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan setiap kota, setiap daerah, boleh saja membuat kawasan halal. Misalnya hotel halal, restoran halal, kafe halal, dan sebagainya karena secara bisnis, karena memang ada pasarnya, dengan daya beli yang sangat kuat.

Dalam acara World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, 2 sampai 4 Agustus 2016 lalu terungkap bahwa berdasarkan studi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2016, jumlah total kedatangan wisatawan muslim mencapai angka 117 juta pada 2015.

Angka ini diperkirakan terus bertambah hingga 168 juta wisatawan pada tahun 2020, dengan total nilai pengeluaran diatasi US$200 miliar. Apalagi populasi masyarakat muslim diperkirakan mencapai 26 persen dari keseluruhan populasi masyarakat dunia pada tahun 2030. Negara negara non muslim saja kini berlomba memanjakan zona halal dalam arti restoran halal, hotel syariah, kuliner halal, fasilitas ibadah, dan selama ini tidak memicu masalah. (jams/dbs)

 


Back to Top