Bersama Para Relawan, Menag Ikut Aksi Bersih-Bersih Masjid Istiqlal

gomuslim.co.id- Dua hari lagi, Milad Masjid Istiqlal akan segera digelar. Sejumlah persiapan pun terus dimatangkan oleh panitia. Mengawali perayaan yang ketiga kalinya ini, relawan dari komunitas pecinta alam melakukan aksi bersih-bersih Masjid Istiqlal. Kegiatan yang dimulai sejak tanggal 10 Februari 2017 itu pun mendapat perhatian khusus dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Menag Lukman meninjau dan bergabung dalam aksi bersih-bersih Masjid Istiqlal tersebut. Selain itu, dia juga mengapresiasi kehadiran relawan yang ikut berpartisipasi dalam aksi bersih masjid kebanggaan bangsa Indonesia ini.

"Saya bersukur bisa hadir di Masjid Istiqlal yang beberapa hari ini sedang dibersihan di sejumlah bagian masjid sejak tanggal 10 Februari 2017. Dan ini yang luar biasa, karena yang bekerja adalah para relawan (volunteer) yang berlatarbelakang pencinta alam yang memiliki skill dan berpengalaman untuk menjangkau bagian-bagian masjid yang sulit dijangkau," ujar Menag yang ikut membersihkan menara yang harus dicapainya dengan meniti 420 anak tangga.

Lebih lanjut, Menag mengungkapkan secara keseluruhan proses aksi-aksi bersih yang dilakukan oleh relawan yang berasal dari sejumlah organisasi pencinta alam, dan organisasi profesi. Bahkan, sejumlah relawan yang berasal dari umat Hindu, Kristiani, Buddha, Konghucu pun ikut berpartisipasi untuk membersihkan mesjid ini.

"Sesuatu yang patut kita syukuri, karena aksi bersih-bersih ini juga melibatkan umat beragama lain, dan mereka tanpa kita minta, mereka spontan dan pro aktif ikut menyumbangkan tenaga untuk terlibat dalam kegiatan ini. Sesuatu yang patut kita apresiasi dan kita hargai," kata Menag.

Dalam kesempatan sama, Koordinator Lapangan Relawan, Ical  mengatakan bahwa relawan aksi bersih-bersih merupakan individu-individu yang berasal dari sejumlah organisasi pencinta alam. Tampak hari itu, sejumlah siswa sekolah yang berasal dari kelompok Pramuka Peduli juga hadir menjadi bagian dari relawan.

"Semuanya (relawan) ini diundang secara individual meski mereka berasal dari organisasi yang berbeda. Konsumsi dan bahan pembersih juga berasal dari sumbangan sejumlah pihak," kata Ical.

Menurut Ical, motivasi menjadi relawan membersihkan masjid dalam aksi ini semata karena senang dan sebagai kegiatan alternatif yang bernilai ibadah yang lebih riil. "Kalau kita berbicara program bagaimana menghargai perbedaan, program gotong royong, kita ingin kegiatan riilnya atau aksi nyatanya," ucapnya.

Senada dengan Ical, Firman, relawan asal Indramayu yang menjadi penanggungjawab membersihkan menara juga mengaku senang. Sedangkan alasan lainnya diungkapkan relawan bernama Ciprianus. Pria beragama Katolik dan berasal Flores menyampaikan bahwa masjid ini dari sisi sejarah, desainnya dibuat oleh arsitek yang bukan beragama Islam, yaitu Fredrerich Silaban, juga mungkin ada donasi dari umat selain muslim.

"Namun, terlepas dari itu, masjid ini milik negara, dan saya sebagai anak bangsa, saya ikut memiliki. Kehadiran saya di sini, tidak semata melihat agama, tapi juga karena masjid ini milik bangsa," ujar pria yang pernah melanglangbuana ke 26 negara dengan bersepeda pada periode tahun 1980-an.

Tim yang sudah profesional mengerjakan pembersihan menara seluruhnya berjumlah 40 orang lebih yang berasal dari sejumlah daerah di tanah air. Mereka bekerja mulai dari ukul 08.00-17.00 wib, kecuali relawan lain yang membersihkan selain menara, memulai aksi bersih-bersihnya pukul 09.00 WIB. Selain menara dan kisi-kisi atau ventilasi selasar, para relawan ini juga membersihkan toilet dan tempat wudhu.

Ical menjelaskan para relawan yang bekerja membersihkan menara adalah profesional di bidangnya, dan mereka tidak dibayar. Mereka yang bekerja di ketinggian ini rata-rata adalah pencinta alam dan bekerja di bidang ini. Setiap harinya, pada hari kerja ada 80-100 relawan yang bekerja, dan pada hari libur bisa mencapai 150 orang.

"Mereka profesional yang sudah tersertifikasi tingkat nasional dan internasional sebagai pekerja ketinggian dengan nama pekerjaannya Pekerja Akses Tali, dan ada asosiasinya, yaitu AsosiasiRope Access Indonesia (ARAI) atau asosiasi pekerja akses tali," ujar pria ramah yang menggeluti di hobi pencinta alam sejak SMA dan hingga saat ini bekerja di bidang tersebut.

Lalu ketika ditanya apa tantangannya saat membersihkan menara, ia mengatakan tantangannya adalah cuaca, hujan, dan juga kecepatan angin. Menurutnya, bila kecepatan angin melebihi 12 knot, maka itu warning bagi tim untuk berhenti dahulu. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top