Rekrut Santri Jadi Polisi, Kapolda Jabar Siapkan Kuota Khusus Tahun Ini

gomuslim.co.id- Santri mempunyai peranan penting bagi masyarakat. Mereka tidak hanya bisa mengaji ilmu agama. Santri juga bisa berkarya dan menjadi apa saja yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Beragam profesi pun menjadi pilihan bagi santri setelah selesai mengikuti pendidikan di pondok pesantren. Salah satunya adalah menjadi polisi.

Baru-baru ini, Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) akan memberikan kuota khusus bagi para santri yang ingin menjadi anggota Polisi. Kuota khusus itu akan diberlakukan pada program penerimaan anggota Polri tahun 2017-2018. Pernyataan ini disampaikan Kapolda Jabar, Irjen Anton Charliyan beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan kuota bagi para santri di Jawa Barat, yang ingin menjadi anggota Polri. Kapolda memberikan kuota sebanyak tiga orang santri dari setiap Kota, yang akan diseleksi terlebih dahulu. Penyaringan santri tersebut dilihat dari Kondisi fisik, kesehatan, dan ilmu agamanya.

"Kita akan memberikan kuota khusus bagi santri yang ingin mendaftar anggota Polri, tiga oranglah di setiap kota, mereka harus diseleksi dulu, dari segi fisiknya, kesehatannya, juga ilmu agamanya," ujar Anton usai acara penyerahan bantuan sembako dan pengobatan gratis, di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien, di Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut Jawa Barat, Minggu (19/02/2017).

Pemberian kuota khusus ini bertujuan untuk mengubah paradigma di masyarakat yang menyebut Polisi itu hanya ada di tempat yang kotor. Selain itu, kuota khusus ini juga diberikan guna memperbanyak anggota Polri yang ahli dalam beragama.

"Ini mengubah opini di masyarakat, yang menyebutkan bahwa Polisi itu hanya ada di tempat kotor. Tidak ada salahnya kita kasih kuota khusus ke santri, enak juga jika ada anggota Polri yang ahli dalam agama. Yang bisa jadi khatib, yang bisa jadi imam, pokoknya bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat," tegas beliau.

Selain itu, Polda Jabar juga berencana mengirimkan anggotanya yang memiliki pengetahuan agama yang baik untuk memperdalam agamanya selama beberapa hari di pesantren. "Minggu ini lah, kita kirimkan anggota, minimal 15 orang dari setiap Polres yang memiliki dasar agama yang bagus, akan kita latih dan tajamkan lagi di pesantren selama beberapa hari," ungkapnya.

Pengiriman polisi untuk nyantri di Pesantren ini dalam rangka mencetak polisi agamis. Anton berharap banyak lahir anggota polisi yang menguasai ilmu Agama Islam. Sehingga banyak pemuka agama, pengurus masjid bahkan pengurus pesantren anggota polisi.

Selain untuk menjaga citra polisi, pihaknya berharap anggota Polri bisa menjadi teladan dan panutan masyarakat selain kiprahnya sebagai pelayan masyarakat. Pendekatan melalui agama menurut Anton dinilai lebih efektif dan tepat sasaran di mana pembinaan terhadap masyarakat akan lebih mudah. "Pendekatan agama lebih humanis, karena dulu polisi dikenal (sering berada) di tempat hitam. Nah, polisi sekarang (dikenal), ada pengajian, di sana ada polisi," tandasnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Faizien Hidayatulloh, KH Ceng Mimar mengapresiasi langkah Kapolda Jawa Barat yang menyempatkan diri mengunjunginya. “Kunjungan dan silaturahmi ini menunjukan sekaligus membuktikan terbangunnya persatuan antara ulama dan umara. Kalau dua elemen ini bisa bersatu, saya yakin rakyat juga akan tenteram, aman serta sejahtera,” kata Ceng Mimar

Dia meminta agar jangan mencampur adukkan politik dengan pelayanan terhadap masyarakat. Dia menyesalkan jika ada ulama yang terjun langsung ke dunia politik. “Ulama seharusnya menempatkan posisi diantara masyarakat dan bukan memihak untuk kepentingan politik manapun. Mudah-mudahan kunjungan Pak Kapolda membawa rasa damai, aman dan tentram. Khususnya Kabupaten Garut,” pungkasnya. (njs/dbs)


Back to Top