Hidup Berdampingan Antar Etnis, Islam di Suriname Berkembang Pesat

gomuslim.co.id- Republik Suriname merupakan sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam.

Suriname memiliki banyak kelompok etnis ataupun agama, seperti Hindu, Kristen, Islam, Afrika, Arab, Cina, India, Pakistan, Indonesia, Yahudi, Indian, dan Belanda. Di tengah pluralisme itu, hubungan yang terjalin berlangsung cukup baik dan akrab.

Dengan Adanya keragaman itu menjadikan Suriname dikenal sebagai salah satu negara multietnis terbesar di Amerika Selatan. Walaupun demikian, kondisi itu tak menciptakan perpecahan.

Guido Robles, seorang pengusaha di Paramaribo berpendapat bahwa di Suriname tidak ada penganut agama yang memiliki masalah dengan penganut agama lain. “'Bila pun ada persoalan, itu lebih disebabkan ulah politisi,” ujar Robles.

Carlo K Dwarka Panday, manajer Hotel Krasnapolsky Paramaribo, turut sependapat. Menurutnya Suriname berbeda dengan negara lain, contohnya di India yang kerap terjadi pertikaian antara penganut Hindu dan Islam, dan hal itu tidak demikian di negara ini.

“Kami di sini hidup rukun. Saat Idul Fitri, umat Hindu datang ke masjid dan mengucapkan selamat dan merayakan hari raya dengan umat Muslim,” tukas Panday.

Selain itu, bentuk toleransi yang lain dapat dilihat di pusat Kota Paramaribo. Masjid Anjumann Ishaat Islam berdiri berdampingan dengan sebuah Sinagog Yahudi dan selama ini tidak pernah ada pertikaian di antara kedua penganut agama.

Seiring berjalannya waktu, agama Islam di Suriname berkembang pesat. Dr Isaac Jamaluddin, selaku ketua Majelis Muslimin Suriname mengemukakan bahwa warga Muslim tidak kendur, bahkan semakin antusias mempelajari ajaran ilmu agama. ''Itu sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir,'' ujarnya.

Kendati demikian, mereka masih menemui kendala. Pengajaran agama Islam terbentur oleh keterbatasan tenaga pengajar serta material yang diperlukan, seperti buku-buku agama.

“Kedua problem ini belum sepenuhnya teratasi, mengingat dana yang juga terbatas,” tutur Jamaluddin.

Sementara itu, yang menjadi permasalahan karena Islam tak seperti umat lain, mayoritas umat Islam berasal dari kelas menengah bawah. “Sehingga, kami kesulitan memenuhi keperluan untuk pengajaran agama ini,'' katanya.

Karena itu, pihaknya mengharapkan bantuan dari lembaga serta negara Islam di dunia, terutama dalam penyediaan tenaga guru agama dan bahan pengajaran.

“Kami meminta agar masalah ini menjadi perhatian bersama. Mengingat, selama ini umat agama lain, yakni Kristen dan Hindu, banyak mendapat dukungan dari Belanda, Amerika, serta India,” tukas Jamaluddin.

Umat Muslim di Suriname saat ini mencakup 20 persen dari jumlah penduduk yang sekitar 500 ribu jiwa. Ini merupakan ketiga terbesar setelah penganut Hindu (37 persen) dan Kristen (31 persen). (nat/dbs)

 


Back to Top