Jadi Destinasi Wisata Religi, Desa Onje Purbalingga Simpan Sejarah Islam Wali Songo

gomuslim.co.id- Desa Onje merupakan desa yang berada di Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebagai  desa yang termasuk desa tua tentu mempunyai Babad atau sejarah tersendiri.

Kini Desa Onje diusulkan untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata religi. Tasdi selaku Bupati Purbalingga mengungkapkan Desa Onje potensial untuk dikembangkan menjadi wisata religi karena desa ini dulunya merupakan pusat penyebaran agama Islam.

“Desa Onje merupakan satu desa yang berjasa dalam syiar agama islam di Kabupaten Purbalingga, desa ini memiliki banyak tempat bersejarah, salah satunya Masjid R Sayyid,” ujar Tasdi.

Lebih lanjut, Tasdi menambahkan tempat-tempat bersejarah tersebut mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Desa Onje. Namun demikian, untuk dapat menarik wisatawan datang diperlukan infrastruktur yang memadai.

Tasdi mengusulkan agar pemerintah desa dapat melebarkan jalan masuk ke Desa Onje. “Pelebaran jalan dapat dilakukan yaitu dari patokan SPBU Mberet, jalan lurus ke arah Timur seluas kanan-kiri jalan satu meter,” pungkasnya.  

Tambah dia, pelebaran jalan tersebut dimaksudkan untuk kemudahan akses kendaraan wisatawan yang datang ke Desa Onje.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga akan mengangkat Festival Sandrenan yang awalnya hanya diselenggarakan oleh masyarakat Onje, kini menjadi festival tingkat kabupaten. “Kita angkat menjadi festival tingkat kabupaten agar dapat mendorong objek wisata religi di Desa Onje,” ujar Tasdi.

Masjid R Sayyid Kuning di Desa Onje, Kecamatan Mrebet disebut-sebut sebagai salah satu masjid tertua di Pulau Jawa. Masjid yang sebelumnya dikenal dengan nama Masjdi Onje, diklaim usianya lebih tua dibandingkan Masjid Agung Demak yang dibangun oleh Walisongo.

Saat pertama kali dibangun, empat tiang penyangga utama dibuat dari batang pohon pakis dan atapnya dibuat dari ijuk. Saat itu wilayah Onje masih hutan belantara, sehingga masih banyak pohon pakis yang tumbuh.

Masjid tersebut merupakan pusat penyebaran agama Islam di wilayah Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya. Sehingga saat masa Wali Songo, masjid juga dikunjungi Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, dan Sunan Kalijaga.



Setelah merenovasi Masjid R Sayyid Kuning, empat wali pindah ke Demak dan mendirikan Masjid Agung Demak. Setelah direnovasi oleh empat wali, masjid ini kembali direnovasi oleh Ngabdullah Syarif atau Sayyid Ngabdullah, yang kemudian lebih dikenal sebagai Raden Sayyid Kuning pada abad ke 16. Raden Sayyid Kuning adalah pencipta kalender aboge, yang kemudian memunculkan Islam Aboge.

Sedangkan makna dibalik nama Masjid R Sayyid Kuning adalah, huruf R diambil dari nama Raden Adipati Onje atau nama lain Raden Sayyid Kuning, Sayyid berasal dari kepanjangan Sayiddina Ali, sedangkan Kuning diambil dari nama Raden Adipati Onje. (nat/dbs)


Back to Top