Begini Kata Para Pakar Tentang Industri Produk Asuransi Syariah di Indonesia

gomuslim.co.id- Asuransi syariah merupakan salah produk keuangan syariah yang banyak manfaat. Salah satunya adalah manfaat saling tolong menolong. Sejumlah dana yang bersumber dari dana tabarru atau kumpulan dana yang berasal dari kontribusi peserta dapat digunakan untuk membayar santunan kepada peserta yang mengalami musibah atau pihak lain yang berhak.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Badan Pelaksana Harian (BPH) DSN MUI Prof Jaih Mubarok baru-baru ini. Selain itu, dia mengungkapkan bahwa manfaat investasi adalah sejumlah dana yang diserahkan kepada peserta program asuransi yang berasal dari kontribusi investasi peserta dan hasil investasinya. Manfaat investasi tersebut boleh diwakafkan oleh peserta asuransi.

“Kadar jumlah manfaat investasi yang boleh diwakafkan paling banyak sepertiga dari total kekayaan dan atau tirkah, kecuali disepakati lain oleh semua ahli waris," ujar Jaih dalam seminar bertajuk 'Wakaf Manfaat Asuransi dan Investasi pada Asuransi' di Jakarta, Kamis (23/02/2017). 

Lebih lanjut, Jaih menjelaskan ada ketentuan khusus terkait wakaf manfaat asuransi. Pertama, pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat asuransi menyatakan janji yang mengikat untuk mewakafkan manfaat asuransi. "Kedua, manfaat asuransi yang boleh diwakafkan paling banyak 45 persen dari total manfaat asuransi," katanya.

Ketiga, semua calon penerima manfaat asuransi yang ditunjuk atau penggantinya menyatakan persetujuan dan kesepakatannya. Keempat, ikrar wakaf dilaksanakan setelah manfaat asuransi secara prinsip sudah menjadi hak pihak yang ditunjuk atau penggantinya.

Sedangkan ada juga ketentuan khusus wakaf manfaat investasi yakni pertama, manfaat investasi boleh diwakafkan oleh peserta asuransi. Kedua, kadar jumlah manfaat investasi yang boleh diwakafkan paling banyak sepertiga dari total kekayaan dan atau tirkah kecuali disepakati lain oleh semua ahli waris.

Menurut Jaih, bisnis asuransi syariah diyakini semakin besar pada tahun ini. Hal ini mengingat adanya Fatwa DSN MUI Nomor 106 Tahun 2016 tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (Marein) Robby Loho mengatakan perlu adanya sosialisasi yang masif terkait fatwa ini kepada pelaku industri asuransi syariah. "Dengan demikian produk asuransi jiwa syariah dapat dikembangkan lebih inovatif. Diharapkan industri asuransi syariah di Indonesia dapat lebih berkembang di masa mendatang," kata Robby.

Sementara itu, Direktorat Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Amin mengatakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap masih rendahnya pangsa pasar asuransi syariah di Tanah Air adalah rendahnya tingkat literasi dan keyakinan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan.

Hal tersebut dikatakannya dalam "Seminar Edukatif Asuransi Syariah untuk Masyarakat Aceh". Seminar dilangsungkan PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) bekerja sama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2016 menunjukkan masyarakat Indonesia yang memiliki literasi 'baik' terhadap industri asuransi relatif rendah, terutama terhadap asuransi syariah," ujarnya.

Indeks literasi asuransi hanya mencapai 15,76 persen, turun dari survei tahun 2013 di angka 17,84 persen. Sementara tingkat utilitas mencapai 12,08 persen, tidak berubah jauh dari survei 2013 di angka 11,81 persen. "Artinya, dari 100 orang Indonesia hanya 15 sampai 16 orang yang mengenal lembaga jasa keuangan asuransi dan hanya 12 orang yang sudah menggunakan jasa asuransi," kata dia.

Chief Agency Officer Syariah Sun Life Financial Indonesia, Norman Nugraha mengatakan, seminar menghadirkan pembicara yang dapat memberi pemahaman komprehensif tentang nilai-nilai utama dan manfaat ekonomi dan asuransi syariah. Sekaligus meningkatkan pangsa pasar asuransi syariah khususnya di Aceh.

"Sun Life percaya bahwa asuransi syariah dengan nilai-nilai keutamaanya menawarkan manfaat yang besar bagi masyarakat luas, tanpa memandang latar belakang sosial dan kepercayaan yang dianut," ujar Norman.

Nilai-nilai bisnis yang ditawarkan seperti adil, transparan dan universal, akan diterima dengan baik oleh masyarakat di manapun, termasuk di Aceh, yang memegang teguh nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (njs/dbs)


Back to Top