Unit Syariah Bank Jateng Siap Tingkatkan Aset pada 2017

gomuslim.co.id- Indonesia merupakan Negara dengan perkembangan industri keuangan syariah yang cukup pesat. Hal ini tidak lepas dari masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Beberapa bank daerah pun banyak yang membuka unit syariahnya demi merangkul nasabah yang beragam. Salah satunya Bank Jawa Tengah (Bank Jateng).

Baru-baru ini, Unit Usaha Syariah Bank Jateng menargetkan peningkatan aset menjadi Rp 6 triliun pada 2017 ini dari total aset yang sudah dimiliki sebesar Rp 3,1 triliun. Direktur Operasional dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng, Hanawijaya mengatakan target tersebut dinilai sangat realistis.

Menurutnya, target itu sejalan dengan target bank induk yaitu Bank Jateng yang asetnya ditargetkan meningkat menjadi Rp 60 triliun pada 2017. "Jadi nanti match dengan bank induk. Perhitungannya aset minimal 10 persen dari bank induk yang ditargetkan naik Rp 60 triliun," kata Hanawijaya seusai seminar Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat Islam di aula lantai VII kantor pusat Bank Jateng, Senin (27/02/2017).

Hanawijaya menambahkan untuk mencapai target peningkatan aset tersebut, Unit Syariah Bank Jateng akan melakukan ekspansi investasi pada beberapa bidang. Di antaranya investasi pengadaan jalan tol, perumahan, dan power plant PLN.

"Tapi kami tetap fokuskan ke pembiayaam UMKM. Kebijakan itu sejalan dengan bank induk dalam rangka pembangunan dan peningkatan perekonomian Jawa Tengah," tuturnya. Meski melakukan ekspansi dan memberi akses permodalan bagi UMKM, unit syariah ini akan menerapkan strategi yang berbeda dari bank konvensional.

Selain itu, dia juga menyampaikan saat ini ada 14 bank umum syariah dan 27 unit usaha syariah. "Tapi kebanyakan masih menempel di induknya yang merupakan bank konvensional meski managemennya mandiri," ucapnya.

Dia mengaku untuk menyokong bank syariah diperlukan peran pelaku usaha riil. "Ini karena kami kesulitan mengalami kesulitan sosialisasi, bahkan termasuk di pesantren. Hal ini karena pengetahuan dan pemahaman mengenai bank syariah masih sangat sedikit,” katanya.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan kebangkitan lembaga keuangan syariah di Indonesia harus dijadikan momentum emas bagi seluruh pelaku ekonomi keaungan. Ulama yang dianggap penggagas ekonomi syariah ini memandang bank syariah mempunyai peluang yang bagus.

Dalam mayoritas yang memeluk agama Islam, lembaga keuangan syariah harus menjadi salah satu tujuan yang diminati hingga ke mancanegara. "Lembaga ini sudah ada sejak tahun 1990 tapi baru bisa dilaksanakan sekitar dua tahun kemudian. Momentum kebangkitan ini juga disambut baik adanya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dibentuk Presiden Jokowi. Itu juga saya yang membisiki supaya cepat jadi," jelasnya.

Lebih lanjut, Maruf Amin menjelaskan bahwa lembaga keuangan syariah harus memberi kontribusi bagi pembangunan nasional. Selain itu, lembaga keuangan syariah turut menjaga umat Islam agar tetap syariah, mulai dari akidah, ibadah, dan muamalah. "Islam tidak akan lengkap tanpa ekonomi yang syariah," jelasnya, Senin (27/02) dalam seminar Lembaga Keuangan Syariah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat Islam di kantor Bank Jateng.

Ma'ruf menyampaikan setelah ada KNKS Presiden Joko Widodo mencanangkan Jakarta harus menjadi pusat keuangan Islam. "Umat Islam harus mampu menangkap potensi dan modal yang datang dari investor, sehingga karena beban berat yang diterima kelembagaan keuangan syariah harus kuat," tegasnya.

Saat ini, gerakan global lembaga keuangan syariah semakin menguat dan dipusatkan di London, Inggris yang bukan negara muslim. "Untuk Indonesia, potensi umat Islam sangat besar namun realisasinya sangat kecil karena kalah dengan yang konvensional," ucap Maruf.

Untuk mendongkrak, menurutnya pondok pesantren harus mulai bergerak. Dia mencontohkan di Malaysia lembaga keuangan syariah memberi kontribusi untuk ekonomi nasional sebesar 20 persen. (njs/dbs)

 


Back to Top