Peluang Kerjasama Keuangan Syariah Terbuka, Ini Kata Ketua MUI Tentang Kunjungan Raja Salman ke Indonesia

gomuslim.co.id- Ekonomi syariah terus berkembang di Indonesia. Hal ini seiring dengan gencarnya pelaku industri keuangan syariah dalam mengedukasi kepada masyarakat. Apalagi dalam waktu dekat Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud akan berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya diharapkan dapat memberikan respon positif bagi ekonomi syariah Tanah Air.

Demikian disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin beberapa waktu lalu. Dia mengatakan lawatan Raja Salman dapat meningkatkan investasi di bidang ekonomi syariah. "Saya berharap, mudah-mudahan kunjungan Raja Saudi ini bisa memberi kepercayaan investasi di Indonesia, " kata Ma'ruf di Semarang, Senin (27/02/2017).

Lebih lanjut, Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu mengungkapkan saat ini Indonesia sedang giat mengembangkan sistem ekonomi syariah. “Berbagai negara sudah memulai mengadopsi sistem dan mulai menerapkan di kegiatan bisnis berbasis syariah,” ungkapnya.

Menurut Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini, pusat dari kegiatan ekonomi syariah saat ini berada di London, Inggris. Negara lain juga mulai menerapkan sistem ekonomi syariah, terutama di Malaysia dan Singapura. "Pusat ekonomi syariah itu di London. London sudah jadi kegiatan bisnis yang menarik, lalu Singapura dan Malaysia memosisikan pusat keuangan syariah, kalau Indonesia ketinggalan dana (Timur Tengah) itu akan masuk," ujarnya.

Ma'ruf berharap melalui kedatangan Raja Salman bisa memperkuat fundamental sistem syariah di Indonesia. Saat ini sistem syariah sudah digunakan dalam sistem ekonomi nasional. Semua yang berkaitan dengan keuangan nasional sudah ada bagian syariahnya. Apalagi, kata dia, lembaga keuangan syariah nasional sekarang ini sedang memasuki era keemasan (Golden Moment).

"Keuangan syariah di kita sudah dual system, ada syariah dan nasional, bank juga dobel, pasar modal sudah dobel. Yang perlu dipacu sekarang ini sistem keuangan syariah punya pangsa pasar besar, sekarang baru 5,3 persen," kata dia.

"Tetapi, kita optimis karena lembaga syariah kuat. Ini momentum pengembangan ekonomi umat, karena saat ini sudah dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuai oleh presiden," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Nelson Tampubolon berpendapat, kedatangan Raja Salman bisa saja membuka peluang kerjasama di industri keuangan syariah. Sebab, bisnis pada sektor syariah di Indonesia cukup menggiurkan.

Besarnya jumlah penduduk muslim di Indonesia turut menjadi pendorong pertumbuhan bisnis ritel. Hal ini pun berdampak pada pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia. "Ya bisa aja itu kesempatan bagus (kerjasama industri perbankan syariah)," ungkapnya.

Berdasarkan catatan OJK, saat ini pertumbuhan industri perbankan syariah secara nasional telah mencapai 4,7%. Adapun pertumbuhan secara global adalah sebesar 2,5% Namun pertumbuhan ini kalah dengan Arab Saudi yang pertumbuhan nasional capai 51% dan pertumbuhan global sebesar 33% Aset perbankan syariah pun saat ini telah mencapai Rp300 triliun.

Pertumbuhan ini telah mulai dapat dirasakan sejak tahun 2010. Hingga September 2016, kenaikannya mencapai 11,3%. Tak hanya itu, Bank Umum Syariah (BUS) pun juga tercatat mengalami pertumbuhan. Tercatat, BUS yoy per September mengalami pertumbuhan 17%, secara year to date 11,98%. Adapun secara month to month tumbuh 8,67%.

Kunjungan kenegaraan Raja Salman berlangsung pada 1-4 Maret 2017. Setelah itu, Raja Salman dan rombongan akan berlibur ke Bali pada 4-9 Maret 2017. Kunjungan ke Indonesia ini adalah yang pertama kali dilakukan Raja Arab Saudi sejak 1970. Lawatan ini, juga merupakan kunjungan balasan, karena sebelumnya Presiden Joko Widodo mengunjungi Arab Saudi pada 2015.

Topik yang akan dibahas dalam pertemuan kenegaraan itu sendiri, antara lain penambahan kuota jemaah haji, peningkatan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia, hingga perlindungan warga negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi. (njs/dbs/foto: Reuters)


Back to Top