Dengan Huruf Braille, Tunanetra Ini Habiskan Seluruh Hidupnya untuk Ajarkan Alquran

gomuslim.co.id- Keterbatasan fisik tidak menjadi alasan bagi Norman Ritonga untuk terus berbagi dengan sesama. Meski sejak kecil telah mengalami kebutaan, namun semangatnya untuk belajar mengaji begitu tinggi. Bahkan dirinya bertekad untuk menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengajarkan Alquran lewat huruf Braille bagi kalangan tunanetra.

“Jika diminta memilih, terlahir dengan melihat atau tetap buta? saya memilih terlahir buta. Saya bersyukur terlahir dalam keadaan seperti sekarang ini (buta),” ujar Qori Tunanetra ini.  Norman yang mengalami kebutaan sejak usia tiga tahun, tidak lantas membuatnya menyalahkan takdir, apalagi mengumpat kepada Tuhan. Dia justru yakin kalau apa yang diberikan Tuhan sebagai jalan untuk mengenal-Nya lebih dekat lagi.

Pendidikan ilmu agama yang kuat dari kedua orangtuanya telah menumbuhkan semangat Norman Ritonga untuk sungguh-sungguh belajar ilmu agama. Sejak dini sudah tertanam cita-citanya menjadi guru mengaji, yang mampu menyebarkan syiar Islam lewat bacaan dan isi Alquran. Masa SD hingga SMA, pendidikannya dihabiskan dengan belajar ilmu agama di pesantren.

Norman bercerita saat itu dia hanya mengandalkan pendengaranya untuk menyerap bacaan-bacaaan Alquran. Untuk meningkatkan kapasitasnya, lelaki kelahiran 62 tahun silam ini tekun belajar agama dengan Alquran Braille pada tahun 1976.

Setelah menguasai Alquran braille, hari-harinya tidak pernah kosong. Norman, kemudian mengabdikan hidupnya untuk mengajari membaca Alquran setiap orang. Siswanya berasal dari berbagai kalangan, terutama dari para tunanetra.

Norman mengajar dengan ikhlas. Tidak serupiah pun dia mengharap imbalan.” Ini adalah amal zariayah saya. Kelak ketika saya meninggal, saya akan meninggalkan ilmu yang bermanfaat. Saya justru sangat bersyukur masih ada yang mau belajar agama. Harusnya saya yang berterima kasih kepada me-eka,” ujarnya.

Untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya, bapak dari enam orang anak ini mencukupinya dengan memijat. “Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, jalan saya selalu dimudahkan. Saya masih bisa menafkahi keluarga, sekaligus mengajar ngaji. Saat ini keenam anak saya juga sudah berkeluaga semua,” ucap Norman.

Selain kepada kaum tunanetra, Norman juga mengajarkan membaca Aquran kepada anak-anak dengan pengelihatan yang normal. Tak jarang, Norman Ritonga, juga datang dari rumah ke rumah untuk membimbing mambaca Alquran.

“Mengajar tunantera berlangsung hari Kamis dan Minggu siang di Persatuan Tunanetra Indonesia (Sumut) dan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), selebihnya banyak diisi dengan kegiatan mambaca Alquaran dari rumah ke rumah,” terangnya.

Saat membimbing membaca Alquran, sering juga Norman, membahas beberapa tafsir Alquran. Tujuannya agar peserta mengerti kandungan dari ayat Alquran, agar siswanya mampu mengamalkan isi dari Alquran, sebagai pedoman hidup.

Untuk bekal pengetahuanya, dia banyak membaca berbagai buku agama dari tulisan braille, dan rutin juga mengikut pengajian. Selain punya semangat yang luar biasa untuk mengembangkan syiar Islam, ternyata Norman, juga memliliki suara merdu. Kurun waktu 1979 sampai 1981 dia pernah meraih juara pertama qori se-Sumatera Utara, khusus tunanetra.

“Hidup ini sangat singkat. Mari kita menuntut ilmu dan terus beribadah secara tekun. Jangan sepenuhnya memikirkan dunia, karena dunia terlalu sebentar dibanding kehidupan akhirat,” pungkasnya. (njs/dbs)


Back to Top