Begini Konsep Zuhud Menurut Habib Luthfi

gomuslim.co.id- Secara bahasa, Zuhud artinya meninggalkan, tidak menyukai, atau menjauhkan diri. Sedangkan zuhud secara istilah berarti tidak mementingkan hal-hal yang bersifat keduniawian, atau meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Namun demikian, zuhud bukan berarti tidak suka harta, tidak bekerja keras, dan hanya beribadah. Zuhud itu tidak mau repot dengan urusan dunia, harta, jabatan, dan lain sebagainya, namun lebih menitikberatkan, lebih mementingkan kepada Sang Pemberi itu semua, yakni Allah SWT.

Pernyataan tersebut disampaikan Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi) saat bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta, Kamis (02/03/2017). Kehadirannya di Kantor Kemenag usai bertemu Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud di Istana Negara bersama tokoh-tokoh lainnya.

"Membangun masjid, madrasah, haji, zakat, semua butuh duit. Bahkan, membantu kesejahteraan fuqoro sangat perlu materi. Zuhud adalah mampu tidak tergantung pada materi, tapi kepada pemberi materi," ujar Habib Luthfi.

Habib Luthfi juga mengingatkan keadaan dunia bisa lebih baik, jika semua penganut agama, mampu melihat Tuhan. Menurutnya, jika itu sulit, minimal ketika kita bersujud kepada Allah SWT, kita merasa didengar dan dilihat Allah SWT. "Jika itu terjadi, di setiap kita, tidak sembarangan melangkah. Dan keburukan pun bisa diminimalisasi," katanya.

Menurut Habib Luthfi, dunia tasawuf tidak sempit tetapi sangat luas dan menjunjung syariat. Makan misalnya, seorang sufi melihat, nasi yang ada adalah rejeki dan pemberian dari Allah SWT. Untuk itu, maka untuk menghormati Sang Pemberi, nasi diletakkan di piring yang bersih.

"Jadi makan dengan piring yang bersih, bukan karena menghormati nasinya, namun lebih pada menghormati Sang Pemberi Nasi. Dan bahkan piring bersih tersebut sebelum dipakai, dilap dulu pula. Ini adalah bagian dari takdzim kepada Sang Pemberi Rizki. Untuk itu, sebelum makan dan sesudah makan, seorang sufi membaca doa sebagai bentuk takdzim," ucap Habib.

Habib Luthfi merupakan satu dari 3 tokoh Islam yang berkesempatan menyampaikan pandangannya ke Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Menag Lukman mengatakan pembatasan tiga tokoh itu dilakukan karena pertimbangan waktu.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu, ketiga tokoh menyampaikan beberapa tanggapannya atas kedatangan Raja Salman ke Indonesia. "Intinya mereka menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Raja Salman dan berterima kasih atas kerja sama dan perhatian yang luar biasa yang telah diberikan pemerintah Saudi pada Indonesia," kata Lukman.

Selain itu, ketiga tokoh juga memberikan beberapa harapan terkait hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi. Mereka berharap hubungan kedua negara dapat lebih ditingkatkan. Harapan lain adalah soal peningkatan kualitas penyelenggaraan haji.  "Mudah-mudahan Indonesia masih bisa mendapatkan kuota mengingat animo yang begitu besar masyarakat Indonesia untuk berhaji," kata Lukman.

Tanggapan ketiga tokoh itu disampaikan setelah Jokowi dan Raja Salman memberikan sedikit sambutannya. Lukman menyatakan tidak ada dialog setelah ketiga tokoh Islam itu menyampaikan pandangannya karena sedari awal Raja Salman memang ingin mendengarkan. "Memang tidak ada dialog, karena beliau sudah tidak muda lagi, jadi dari sisi waktu juga beliau perlu istirahat," kata Lukman.

Namun, dalam sambutan di awal pertemuan, kata Lukman, Raja Salman menyatakan sangat senang bisa bertemu tokoh-tokoh Islam Indonesia. "Dan beliau akan mendengarkan dari apa yang akan disampaikan mereka. Tentu itu akan jadi perhatian beliau," tandasnya. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top