Dapat Hidayah Usai Debat, Begini Cerita Tentara AS yang Jadi Mualaf

gomuslim.co.id- Jalan setiap orang dalam mengenal Islam selalu berbeda-beda. Seperti yang dialami seorang tentara Amerika Serikat ini. Dia adalah Michael Bernes. Meski terlahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Kristen Lutheran yang taat, hidayah Allah SWT ternyata datang di waktu yang tepat.

Barnes yang memulai hidup di Alexandria, Louisiana, terbiasa pergi beribadah setidaknya tiga kali dalam sepekan. "Kami saling mencintai, bila ada yang punya masalah, gereja menyatukan kami dalam mengatasi masalah itu," katanya sebagaimana publikasi dari All American Muslim.

Barnes yang kini telah berganti nama menjadi Khallid Shabazz mengenyam pendidikan di Jarvis Christian College, sebuah kampus agama kenamaan di Texas. Lulus dari kampus itu, dia mengajar biologi di sebuah SD di kampung halamannya. Dia berhenti mengajar setelah enam bulan lantaran putus asa melihat murid-muridnya yang kebanyakan miskin dan tidak mendapat perhatian orang tua.

Pria kulit hitam ini kemudian bertekad memperbaiki caranya mengajar. Di usia 23 tahun dia bergabung dengan Angkatan Darat, berharap kemiliteran bisa membuatnya dewasa dan menjadikannya guru yang lebih baik. "Saya akan berada di militer selama 20 tahun, lalu saya akan mengajar dan melatih. Tapi saya jatuh cinta dengan gagasan dan paradigma militer," katanya.

Dia mengenal Islam saat ditugaskan di Baumholder, Jerman. Bertugas di bagian perawatan kendaraan tempur, dia bertemu dengan seorang tentara Muslim. Tentara ini, kata dia, selalu menyanjung keagungan Islam di depan tentara lainnya, membuat Shabazz dongkol

Kesal dengan tingkah tentara itu, Shabazz memutuskan akan "menggilasnya". Dia lantas menantang tentara Muslim itu untuk debat terbuka. Shabazz mengundang sekitar 30 tentara untuk menyaksikan debat tersebut di sebuah ruang rapat.

Tapi, yang terjadi kemudian justru sebaliknya, Shabazz dihantam. Tentara Muslim itu, kata Shabazz, menyajikan fakta-fakta soal Islam yang selama ini dia tidak pernah ketahui sebelumnya. Shabazz kala itu tertegun. "Sejujurnya, saya malu dan depresi. Untuk pertama kalinya, kesadaran soal siapa saya sebagai manusia dan seluruh keyakinan saya tergetar," ujar dia.

Sejak saat itu setiap hari hingga tengah malam dia membaca soal Islam dan melakukan perbandingan agama. Setelah dua tahun mempelajari Islam, hingga tidak ada lagi keraguan dalam dirinya, dia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat dan mengubah namanya menjadi Khallid Shabazz.

Keluarganya tidak serta merta menerima keislamannya dan masih memanggilnya "Michael". Butuh bertahun-tahun hingga keluarganya menerima dia yang sekarang. Kini keluarganya malah sering meledeknya jika waktu salat tiba, dan membuat lelucon soal memakan sosis babi.

Di kemiliteran juga begitu. Atasannya tidak mau tahu dia telah pindah agama. Daging babi masih disajikan di kemiliteran untuknya. Alhasil dia terpaksa menahan lapar ketimbang harus memakan bacon. Dia berkali-kali mengeluh ke atasannya, tapi tidak dipedulikan.

Dia lalu mengadukan masalah ini ke chaplain, sebutan untuk pembimbing agama di kemiliteran AS. Dari dia Shabazz tahu ada lowongan untuk chaplain Islam. Sejak saat itu, dia bertekad untuk menjadi chaplain dalam sisa hidupnya. "Ini adalah panggilan. Ini adalah yang ingin saya lakukan di sisa hidup saya," katanya.

Shabazz diterima dan telah menjadi chaplain selama 18 tahun dari 26 tahun karier militernya. Dia telah ditugaskan tujuh kali, termasuk ke Irak, Kosovo, dan penjara Guantanamo. Tugasnya tidak hanya membimbing tentara Muslim AS tapi juga tentara beragama lain yang ingin sekadar curhat atau memiliki masalah dalam kehidupannya. "Saya tidak hanya ingin membantu Muslim, tidak hanya ingin membantu Kristiani, saya ingin membantu semua orang yang tertekan," ucapnya.

Tidak jarang, tentara yang dibimbingnya kemudian masuk Islam. Seperti tiga bulan lalu, seorang sersan di Pasukan Khusus AS mendatangi Shabazz sambil menangis. Sersan itu mengaku ingin masuk Islam setelah mempelajarinya selama tiga tahun. "Dia bilang 'Saya telah berpikir soal Islam selama tiga tahun' lalu saya bawa dia ke masjid, dan dia mengucap syahadat," kata Shabazz.

Januari tahun ini sebuah kejutan besar terjadi dalam karier Shabazz. Dia ditunjuk menjadi chaplain bagi seluruh divisi di kemiliteran Amerika Serikat, tidak hanya Angkatan Darat. Mendapatkan berita itu, Shabazz girang bukan main. "Saya di telepon mengatakan, 'Terima kasih, saya hargai dan akan bertugas dengan baik,' dan saya tutup telepon lalu melompat-lompat seperti anak kecil," kata ayah tiga anak ini.

"Saya berlarian di kantor sambil berkata, alhamdulillah, alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah!" lanjut dia. Ada 1.400 pembimbing agama di kemiliteran AS, hanya 5 yang Muslim, Shabazz salah satunya.

Menurut data Departemen Pertahanan AS, ada lebih dari 6.000 Muslim di kemiliteran dari total 1,3 juta tentara dan lebih dari 800 ribu pasukan keamanan serta pasukan cadangan. Jumlah Muslim di kemiliteran AS diperkirakan lebih banyak dari itu, karena kebanyakan tidak terang-terangan mengakui penganut agama Islam.

"Tugas saya bukan untuk membuat orang pindah agama Islam. Allah yang akan membimbing mereka. Tujuan saya adalah agar tentara yang keluar dari kantor saya lebih tegar dibanding saat mereka masuk," tandasnya. (njs/allamericanmuslim/dbs)


Back to Top