Karena Menyehatkan, Warga Non-Muslim Kini Lirik Konsumsi Makanan Halal

gomuslim.co.id- Saat ini pilihan makanan halal mulai dilirik warga non-Muslim. Ketertarikan mereka akan makanan halal disebabkan makanan halal baik dari sisi kesehatan. Sehingga makanan halal menjadi gaya hidup masyarakat global.

Kepala Eksekutif  Dubai Islamic Development Economy Centre (DIEDC), Abdulla Mohammed Al Awar mengatakan makanan halal mampu menarik konsumen non-Muslim yang selama ini khawatir tentang keamanan makanan.

"Kesadaran adalah kunci bagi Muslim dan non-Muslim. Para ahli berharap masyarakat beralih ke makanan halal mengingat banyaknya makanan yang tidak higienis dan tidak sehat," ujarnya seperti yang dilansir dari publikasi FoodNavigation-Asia.

Pihaknya meminta produsen halal menangani masalah-masalah seperti mempersiapkan peningkatan permintaan. Ia juga mendesak mereka untuk menemukan cara-cara mengurangi dampak produksi pangan pada perubahan iklim dan melindungi ekosistem global.

“Saat ini, keamanan pangan, produksi pangan dan ketahanan pangan menduduki puncak agenda global. Mempertahankan status quo tidak lagi menjadi pilihan," pungkas Al Anwar.

Dia memperkiraan jumlah anak yang kelebihan berat badan telah meningkat dari 11 juta pada tahun 2000 lalu menjadi 42 juta orang di 2015. Sebaliknya, kenaikan harga pangan dan kelangkaan pangan yang berhubungan dengan konflik di negara-negara seperti Suriah dan rentan bencana bencana alam membuat jutaan anak-anak lain kekurangan gizi.

“Industri makanan memiliki tanggung jawab etika untuk mengatasi hal ini. Sebagai budaya halal yang telah bertahan selama ribuan tahun, kita tidak perlu menciptakan roda. Kita hanya perlu memperbaikinya, menambah nilai dan memanfaatkan teknologi inovatif untuk memperluas jangkauannya," paparnya.

Sebagai bagian dari prioritas, DIEDC diberi mandat untuk mengembangkan infrastruktur hukum dan kelembagaan yang mempercepat pengembangan ekonomi Islam Dubai di berbagai sektor. Pusat ini diberdayakan untuk mendukung inisiatif pemerintah dan sektor swasta ekonomi Islam dalam waktu tujuh pilar utama dari fokus yang mencakup layanan keuangan, yang halal industri, pariwisata, infrastruktur digital, seni, pengetahuan dan standar.

DIEDC juga akan berfungsi sebagai inkubator ide dan repositori pengetahuan tentang ekonomi Islam. Selain itu, pusat berkomitmen untuk membentuk lingkungan bisnis yang memungkinkan yang memelihara dan menopang tulang punggung dari ekonomi Islam.

Sementara itu, DIEDC dibentuk ketika sembilan negara yakni Amerika Serikat, Australia, Inggris, Mesir, Selandia Baru, Pakistan, Arab Saudi, Spanyol dan Uni Emirat Arab (UEA) sepakat membentuk sebuah forum akreditasi halal internasional yang berbasis di Dubai.

Berdasarkan laporan ekonomi Islam global tahun lalu, pasar halal global diperkirakan bernilai 3,7 triliun dolar AS pada 2019. Sedangkan berdasarkan laporan sama (2013), Muslim Indonesia menjadi pasar utama konsumsi makanan halal dengan pasar senilai 190 miliar dolar AS. Disusul Turki dengan 168 miliar dolar AS dan Pakistan 108 miliar dolar AS. (nat/dbs)

 

 


Back to Top