Tarmidzi Tohor: Peraturan dan Kelembagaan Bisa Tingkatkan Performa Pengelolaan Zakat

gomuslim.co.id- Pada sesi pemaparan yang dilakukan di World Zakat Forum (WZF), Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Tarmidzi Tohor menjadi pembicara pertama dalam memaparkan perihal Kerangka Peraturan dan Kelembagaan Zakat.

Dalam pemaparannya Tarmidzi meninjau undang-undangan pengelolaan zakat, yakni UU No. 23 Tahun 2011, tentang pengelolaan zakat yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat, dan meningkatkan manfat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.

“Pengelolaan zakat di Indonesia berdasarkan pada; syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegritas, dan akuntabilitas,” ujarnya.

Tarmidzi menilai saat ini yang menjadi  problem krusial perzakatan di Indonesia dikarenakan adanya ketimpangan antara potensi zakat (Rp 217 triliun per tahun) dan realisasi pengumpulannya oleh organisasi pengelola zakat yang resmi (baru mencapai Rp 6 triliun), dan Sinkronisasi antara pembayaran zakat dan pembayaran pajak belum ditemukan format yang ideal, yaitu zakat sebagai pengurang pajak seperti yang diharapkan.

“Selain itu yang harus diperhatikan bahwa pengelolaan zakat menyangkut 4 (empat) komponen, yang terdiri atas; muzaki, mustahik, amil, dan pemerintah. Keempat komponen ini memiliki keteraitan satu dengan lainnya,” paparnya.

Kendati demikian, kiprah Indonesia dalam WZF bukan hanya sebagai  pemrakarsa berdirinya WZF di tahun 2010. Namun didukung oleh kondisi objektif perkembangan pengelolaan zakat Indonesia yang memiliki dinamika tinggi dan kemampuan dalam membangun jejaring perzakatan antar bangsa.

WZF diharapkan berperan aktif untuk menyamakan persepsi stakeholders perzakatan tentang urgensi dan relevansi core zakat principles dalam bingkai kolaborasi yang saling mendukung antar lembaga untuk melahirkan standar internasional yang dapat meningkatkan performa pengelolaan zakat.

Berkaitan dengan hal itu, Indonesia menempati sebagai posisi negara yang memiliki potensi Muslim terbesar, sehingga nasabah untuk produk keuangan syariah juga tinggi. Selain itu industri produk halal dan fesyen busana Muslim juga turut menjadi tren saat ini.

Di Indonesia tren penghimpunan zakat melalui seluruh organisasi pengelola (amil) zakat terus meningkat. Tahun ini penghimpunan ditargetkan mencapai Rp 6 Triliun atau meningkat 20% dari tahun 2016. Jumlah tersebut diharapkan dapat mengentaskan 1% penduduk miskin di tanah air atau sekitar 280 ribu jiwa.

WZF adalah forum kerjasama lembaga-lembaga zakat sedunia. Konferensi WZF diadakan tiga tahunan dengan mengundang orang-orang yang bekerja pada urusan dan kegiatan zakat dari berbagai belahan dunia, termasuk dari negara non Muslim. Pada periode 2014, acara ini digelar di New York, Amerika Serikat. Selain pembahasan masalah tersebut, konferensi ini turut menggelar pemilihan Sekreratis Jenderal WZF yang baru. 

Sedangkan BAZNAS sendiri adalah badan pengelola zakat yang dibentuk pemerintah melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 8/2001. BAZNAS bertugas menghimpun dan menyalurkan Zakat Infak dan Sedekah pada tingkat nasional. Lahirnya UU No 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, mengukuhkan peran BAZNAS sebagai lembaga yang berwenang melakukan pengelolaan zakat nasional. BAZNAS sudah berdiri di 34 Provinsi dan 520 Kabupaten/ Kota. (nat)

Baca juga:

Bersama 20 Negara, Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Zakat Dunia 2017

 


Back to Top