Ini Kata Kasubdit Bimbingan Ibadah Tentang Fokus Manasik Haji Berbasis Regu

gomuslim.co.id- Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang hanya dilakukan setahun sekali yakni di bulan Dzulhijah. Kewajiban melaksanakan ibadah ini berlaku bagi setiap muslim yang sudah mampu secara menyeluruh. Salah satu proses yang harus dijalani sebelum menjalani ibadah ini adalah manasik haji.

Hal demikian karena bimbingan ibadah menjadi salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Melalui proses bimbingan ibadah yang baik, jemaah diharapkan dapat melaksanakan ibadah hajinya dengan baik pula.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas bimbingan ibadah, Kementerian Agama (Kemenag) melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah akan melakukan manasik haji dengan berbasis regu, bukan kloter. Pernyataan ini disampaikan Kasubdit Bimbingan Ibadah Ali Rokhmad beberapa waktu lalu.

Menurutnya, dengan fokus regu ini pelaksanaan ibadah haji akan lebih baik dibandingkan dengan cara lama. "Sistem pelaksanaan manasik lebih terfokus pada regu. Artinya ada penguatan manasik setiap regu sejak bimbingan di tingkat KUA kecamatan dan Kab/Kota," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/03/2017).

Di samping itu, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah juga akan melakukan penguatan kompetensi atau pembekalan khusus kepada para ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom). Dalam kegiatan manasik di tingkat Kecamatan, jemaah akan dikelompokan dalam regu dan rombongan.

Menurut Ali, setiap regu terdiri dari 10 orang yang dipimpin oleh 1 karu. Peran ketua regu akan dimaksimalkan untuk mengkoordinir jemaah agar tingkat kehadiran dan kegiatan manasik lebih maksimal. Setiap empat regu akan dikelompokan menjadi satu rombongan yang dipimpin oleh satu karom.

Agar Karu dan Karom bertugas dengan baik, lanjut Ali, ada kriteria yang harus dipenuhi dalam menunjuk Karu dan Karom. Kriteria tersebut antara lain: memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan termasuk manasik, kemampuan fisik lebih dari yang lain, memahami kepemimpinan, serta siap membantu teman sejawat.

"Sambil menunggu penetapan BPIH tahun ini, kita sedang menyempurnakan 3 kurikulum. Yaitu, kurikulum manasik haji tingkat Kecamatan yang akan dilaksanakan 6 - 8 kali; kurikulum manasik tingkat Kabupaten/Kota sebanyak 2 kali; dan kurikulum khusus untuk karu dan karom dalam bentuk pembekalan tugas termasuk pendalaman manasik hajinya," tutupnya.

Sebelumnya, sistem manasik haji berfokus pada regu ini sebenarnya telah menjadi bahasan utama dalam rapat seleksi nasional evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2015 lalu. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat itu mengatakan bahwa pola pembinaan manasik bagi jemaah haji Indonesia harus berbasis regu, bukan kloter.

Menag memandang proses pembinaan yang berbasis kloter selama ini kurang efektif karena rentang kendali ketua kloter terhadap jemaahnya sangat jauh. “Sehebat apapun, jika ketua kloter harus mengayomi 360 sampai 400 an jemaah itu tidak mungkin. Kalau mau ke jamarat misalnya, dia harus membariskan jemaahnya satu kloter itu sudah sangat tidak efektif dan rawan,” kata Menag.

“Karenanya, basis pembinaan itu harus regu, yang terkecil. Lalu diampu oleh rombongan, baru kloter. Dengan demikian, setiap jemaah itu cukup merujuk kepada ketua regunya masing-masing,” ungkapnya. (njs/kemenag/dbs)

 


Back to Top