Rayakan HUT ke-125, Majalah Vogue Tulis Kisah Hijabers di AS

gomuslim.co.id- Dalam rangka merayakan hari jadi ke-125, Vogue membuat fitur kehidupan para wanita Amerika yang beragam. Salah satunya kehidupan wanita Muslim. Dalam edisi ulang tahunnya ini, Vogue membuat judul 'American Women' meliputi 15 video dan potret kisah para wanita Amerika, termasuk yang berhijab.

Dalam projek ini Lynsey Addarrio mejadi fotografer yang menangkap kisah wanita Muslim Amerika. Dia bercerita tentang pembuatan fitur tersebut. Dirinya membuat profil empat wanita Muslim yang tinggal di Maryland, Amerika Serikat. Seperti cerita Fatin, remaja berhijab 16 tahun yang berasal dari Suriah. Keluarganya meninggalkan Fatin bersama adik kecilnya di 2013 setelah ibunya tiba-tiba menghilang.

Lynsey menambahkan potret mereka dalam sebuah kamar, di mana Fatin tampil mengenakan hijab. Sang adik pun tampak sedang bermain di belakangnya. Lynsey merasa prihatin dengan kisah Fatin. Dalam perjalanannya menjadi fotografer, ia juga sudah terbiasa mengambil gambar pria dan wanita Muslim lebih dari satu dekade. Ia sering memotret di berbagai wilayah dunia yang rusak akibat perang maupun perselisihan.

Namun kali ini ia melihat peningkatan Islamophobia yang memberikan pandangan miring tentang Islam. "Sejak Presiden Trump menjabat, dia telah mengeluarkan perintah secara langsung dan tidak adil dengan menargetkan Muslim. Menurutku itu penting bagi media menunjukkan bahwa banyak orang Amerika yang Muslim, aku berharap cerita para wanita Muslim dalam edisi kali ini bisa membantu menghilangkan kesalahpahaman," papar Lynsey, seperti yang dilansir dari publikasi Huffington Post.

Selain Fatin, Zainab Chaudhary juga menjadi perhatian Lynsey. Dia merupakan bagian dari kelompok advokasi Council on American-Islamic Relations (CAIR). Dalam pekerjaan dan kehidupan pribadinya, Zainab bercerita kalau dirinya juga kerap berjuang untuk melawan stereotipe tentang Islam dan wanita berhijab.

"Faktanya adalah kami datang dari beragam latar belakang. Kita semua memiliki pengalaman unik yang menentukan siapa kita," pungkas Zainab.

Selain itu, Direktur Kreatif Vogue, Sally Singer mengatakan saat ini banyak keluarga yang takut dideportasi. Masalah ras juga diperdebatkan di media sosial. Tidak hanya itu, seksualitas, agama, ekologi, serta kewarganegaraan merupakan segala sesuatu yang kerap dilibatkan dalam politik. Belum lagi banyak wanita yang merasa kurang aman sejak pemilu dan sejumlah warga lain justru sebaliknya.

Meski menampilkan kisah hijabers terutama setelah Trump terpilih namun Sally mengatakan kalau edisi ini bukan untuk merespon kebijakan Trump hanya saja memberikan banyak sudut pandang dari para wanita Amerika.

Lynsey membenarkan kalau hidup wanita Muslim Amerika memang berubah dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya setelah Trump memberikan kebijakan larangan masuk Amerika bagi yang memiliki visa dari tujuh negara mayoritas Muslim. Untuk itu, Lynsey berusaha memberikan suaranya untuk mendukung para wanita Muslim di Amerika. "Pada akhirnya kita semua sama terlepas dari apa agama kita. Semua wanita ingin bahagia dan sukses," pungkas Lynsey. (nat/dbs)


Back to Top