World Zakat Forum 2017

‘Sinergi Penguatan Zakat Nasional’ Jadi Topik Utama pada Diskusi Panel World Zakat Forum 2017

gomuslim.co.id- Pada hari kedua acara World Zakat Forum (WZF) 2017, peserta dibagi atas tiga diskusi panel terkait topik tertentu. Salah satunnya mengenai “Sinergi Penguatan Zakat Nasional”. Pada diskusi tersebut hadir 5 pembicara dari beberapa instansi lembaga zakat dan perbankan syariah.

Dewan BAZNAS Emmy Hamidiyah menjadi pembicara pertama. Dalam pemaparannya ia menilai dengan adanya zakat dirasa akan menjadi salah satu langkah untuk memberantas kemiskinan di Indonesia. “Bahkan dapat dikatakan pertumbuhan zakat sendiri lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Emmy menambahkan bahwa saat ini ada sebanyak Rp 217 triliun zakat yang berasal dari perusahaan, sedangkan angka yang lebih kecil Rp 138 triliun berasal dari zakat masyarakat. Namun pihaknya masih terus mengupayakan agar pertumbuhan dapat seimbang.

Kemudian diungkapkan pula oleh pembicara kedua, Direktur Rumah Zakat Indonesia, Nur Efendi. Pada pemaparannya ‘Sinergi untuk Indonesia’ menjadi materi khusus yang dibawakannya. Menurutnya peran Sustainable Development Goals (SDGs) mampu memberikan kerangka dan pemetaan upaya penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. “Ke-17 poin dalam SDGs memberikan pandangan baru terkait pemberantasan kemiskinan, saatnya kita mengubah pandangan untuk memperluas jangkauan secara lebih global,” papar Efendi.

Ke-17 SDGs tersebut antara lain; Kemiskinan, Kelaparan, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Pendidikan Berkualitas, Kesetaraan Gender, Air Bersih dan Sanitasi Anak, Energi Bersih dan Terjangkau, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Industri Inovasi dan Infrastruktur, Berkurangnya Kesenjangan, Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab, Aksi Terhadap Iklim, Kehidupan Bawah Laut, Kehidupan di Darat, Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian, dan Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Berkaitan dengan hal itu adanya sinergitas dari beberapa unsur menjadi faktor utama tercapainya SDGs. Efendi memaparkan 4 objek yang menjadi peluang sinergi, antara lain; Pertama, Peran Pemerintah, diperlukan blue print bersama dalam pengelolaan zakat di Indonesia, Kedua, Peran Pakar dan Akademisi melalui tiga poin yakni terbentuknya majelis pengawasan syariah, melakukan assesment kompetensi lembaga, dan melakukan evaluasi, analisis, dan rekomendasi program yang berkelanjutan. Ketiga, Peran Lembaga Filantropi dan Bisnis, diantaranya meningkatkan kompetensi lembaga dan amil, kolaborasi global, interkoneksi antar lembaga dan distribusi zakat, serta dibuatnya forum komunikasi lembaga zakat dan dunia bisnis. Keempat, adanya peran organisasi sosial masyarakat dan media. Salah satu caranya adalah secara aktif mendorong lembaga zakat untuk mempublikasikan portofolio program dan menjalin kerjasama strategis dengan media.

Kemudian diskusi dilanjutkan oleh Sekertaris Direksi Dompet Dhuafa, M. Sabeth Abilawa, dalam pemaparannya ia mengatakan bahwa ada lima lingaran setan kemiskinan yang harus dientaskan, antara lain; ekonomi, kesehatan, pendidikan, budaya, dan agama. “Terkadang kemiskinan butuh intervensi, karena berdasarkan fakta, kemiskinan dilanda oleh kaum wanita sebanyak 70%,” paparnya.

Direktur Inisiatif Zakat Indonesia, Wildhan Dewayana juga berpendapat dengan adanya sinergitas antar lembaga zakat, maka dapat mewujudkan cita-cita kekuatan zakat nasional.

Sebagai penutup, Direktur BNI Imam Saptono mengkritik terkait peran dan upaya dakwah yang masih kurang, sehingga riba masih terbilang tinggi. “Utamakanlah dakwah maka bisnis akan menyertainya,” tutup Imam. (nat)

Baca juga:

Baca juga:

Bersama 20 Negara, Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Zakat Dunia 2017

  

 


Back to Top