Hijaber Asal Australia Ini Masuk Daftar Orang Berpengaruh Dunia

gomuslim.co.id- Mualaf asal Australia ini patut menjadi contoh bagi seluruh muslimah. Pasalnya, wanita bernama Susan Carland itu telah banyak memberikan sumbangsih besar terhadap Islam. Wanita yang bekerja sebagai dosen Politik dan Sosial di Monash University, Australia itu dikenal atas keberaniannya berbicara sebagai wanita berhijab di Australia dan masih banyak kegiatan sosial lain yang melibatkan dirinya.

Selain bergelar doktor, Isteri dari presenter ternama Australia, Waleed Aly juga merupakan tokoh penggerak komunitas muslim Australia. Komunitas tersebut baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di media massa setelah berusaha mengubah kebencian menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Bahkan, Susan Carland pernah masuk dalam '500 Most Influential Muslims in the World' dan juga dilabeli sebagai 'Muslim Leaders of Tomorrow' oleh PBB dan ASMA Society di 2009.

Dua desainer Indonesia, Dian Pelangi dan Barli Asmara mendapat kesempatan berbincang dengan Susan dalam agenda Wardah Fashion Journey di 35 Carlton Street, Melbourne, Australia, Kamis (16/3/2017). Kepada keduanya, Susan mengungkapkan pandangannya tentang Muslim.

"Islam selalu bisa menyesuaikan dengan budaya yang ada. Islam seperti air sungai yang mengalir dan beradaptasi dengan tempatnya. Islam di Melbourne masih sangat muda. Di Australia, komunitas Islamnya sangat multikultur, sekitar 200 negara asal yang berbeda, yang juga memengaruhi seperti apa Islam di negara ini," ujarnya.

Wanita yang namanya ada di media lokal Australia hingga internasional itu mengatakan bahwa menjadi seorang wanita muslim di Australia memang tak mudah. Islam kerap kali dipandang sebelah mata.

Baginya, cara yang mungkin dilakukan untuk mengubah stereotip wanita muslim yang kurang postif, adalah dengan menjadi duta di negaranya sendiri. Wanita yang dikenal sebagai tokoh penggerak komunitas muslim Australia itu mengaku lebih mengutamakan perkembangan karakter dirinya, bagaimana ia bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

"Hijab hanyalah sepotong busana. Hijab tak pernah membuatku mundur atau menarik diri. Satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah asumsi yang diletakkan orang-orang pada saya. Misalnya wanita berhijab tidak beredukasi, tak bisa melakukan apa-apa dan hanya tinggal di rumah. Padahal saya masih bisa melakukan scuba diving, ke universitas, traveling dengan hijab. Kita harus menunjukkan diri untuk mengubah stereotip itu," lanjut Susan.

Susan mengingatkan untuk selalu membantu orang lain sebagai hal utama yang harus dilakukan sebagai manusia. Menurutnya, dibanding status dan titel yang ia terima, semuanya kembali kepada manfaat yang bisa ia berikan kepada sesama.

"Be a lamp or life boat or ladder (jadilah lampu atau perahu penyelamat atau sebuah tangga). Jadi artinya jadilah orang yang menerangi hidup orang lain, atau jadilah perahu penyelamat yang membantu orang yang sedang berjuang keluar dari kesulitannya dan jadilah tangga untuk selalu mengangkat orang lain. Itu yang aku tanamkan pada diriku. Jadilah pemberi bukan penerima," ungkapnya.

Untuk diketahui, Ibu dua anak ini tidak terlahir sebagai seorang muslimah. Susan berasal dari keluarga Kristen yang taat. Di usia 17 tahun, Susan memiliki resolusi salah satunya ingin mencari tahu tentang agama lain karena ia tidak pernah diberikan pelajaran oleh kedua orangtua mengenai keyakinan lain di luar Kristen. Namun di usia 19 tahun ia memilih masuk Islam. Istri presenter ternama Australia, Waleed Aly, itu memutuskan pindah sebagai muslim setelah belajar tentang banyak agama selama dua tahun. (njs/dbs)

 


Back to Top