Ajak Suarakan Moderasi Islam, Menag Harap Sarjana Muslim Indonesia Miliki Kecerdasan Kultural

gomuslim.co.id- Moderasi Islam menjadi salah satu kunci yang paling relevan dengan konteks kemajemukan Indonesia. Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian perlu dilantangkan oleh berbagai kalangan, terutama mayoritas kaum moderat. Salah satu ujung tombak dalam menjaga keragaman Tanah Air ini adalah sarjana muslim.

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan pada Wisuda Sarjana dan Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (18/03/2017). Menurutnya, banyaknya kaum moderat yang memilih diam menyuarakan perdamaian dan realitas keragaman menjadi persoalan penting dalam keutuhan Negara.

“Untuk bisa menjadi moderat, kita harus lebih banyak menyuarakan suara moderasi. Orang-orang yang arif dan berwawasan luas memang cenderung tidak mudah kagetan dalam menghadapi perbedaan, bahkan se-ekstrim apapun. Mereka umumnya memiliki kemampuan untuk memahami dan memaklumi perbedaan yang ada, meski sikap itupun bukan berarti menerimanya,” ujarnya.

Kemampuan memahami itu tidak jarang menjadikan mereka untuk cenderung diam. "Sekarang menurut saya tidak bisa lagi seperti itu. Kaum moderat di Republik ini harus speak up dan speak out, lebih banyak bersuara. Saya sangat berharap perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UIN Sunan Ampel salah satunya, untuk bisa berdiri di garis terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam," katanya.

Kalau saat ini tidak mulai lantang menyuarakan moderasi Islam, kata Menag, tidak ada yang bisa menjamin 5, 10, atau 100 tahun yang akan datang, bagaimana warna keberagamaan dan keberislaman di Indonesia. "Kita sudah punya contoh di beberapa negara lain, bagaimana sesama umat Islam dan sama-sama meneriakan takbir, tapi juga saling menumpahkan darah. Sesuatu yang tentu tidak diajarkan dalam Islam," tuturnya.

Selain itu, Menag juga berpesan agar para sarjana Muslim Indonesia juga memiliki kecerdasarn kultural. "Selain kecerdasan intelektual, emosi, spiritual, saya ingin menambahkan kecerdasan kultural. Dalam konteks Indonesia, menjadi penting bagaimana pemahaman kita terhadap tradisi, kultur yang berkembang di Nusantara yang luas," ucapnya.

Indonesia, kata Menag, adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Karenanya, niscaya bagi warga bangsanya untuk memahami keragaman budaya dan tradisi yang dimilikinya. "Dengan kecerdasan kultural, kita diharapkan mampu tidak hanya menjaga, tapi juga mengembangkannya dengan cara kearifan. Bagaimana kita berislam tanpa harus menyalahkan perbedaan pada orang lain yang muncul karena ada konteks komunitas yang beragam sehingga penerapan nilai Islam tidak sama," tuturnya.

Menag lalu mencontohkan perbedaan cara penghormatan kepada kaum perempuan. Jika di Saudi Arabia dan negara timur tangah lainnya, penghormatan terhadap perempuan antara lain terwujud dalam bentuk larangan mengendarai mobil. Hal berbeda terjadi di Indonesia. Jangankan mengendarai mobil, perempuan juga bisa menjadi seorang hakim, bahkan hakim pengadilan agama.

Ini bukan berarti Islam di Nusantara lebih baik dari tempat lain. Perbedaan terjadi, kata Menag karena adanya latar belakang yang berbeda sehingga implementasi hukumnya tidak sama di masing-masing komunitas. "Yang diperlukan adalah kearifan untuk melihat persoalan dan memahami lingkungan strategis, serta bagaimana nilai Islam diterapkan dalam rangka menebarkan kemaslahatan. Kecerdasan kultural harus ditumbuhkembangkan agar kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual kita bisa berjalan seiring sejalan,” jelasnya.

Menag berharap sarjana UIN Surabaya dapat mencontoh dakwah Sunan Ampel yang sarat dengan hikmah. Sunan Ampel mengembangkan Islam di Indonesia dengan bijak sehingga mampu menjaga tradisi dan memberi ruh dari tradisi itu sehingga Islamisasi berjalan tanpa pertumpahan darah. “Ini menjadi tanggungjawab kita semua. Harus kita jaga dan dikembangkan sesuai situasi dan kondisi yang mengitarinya," tandasnya. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top