Rumah Ilmu Al Hilya Sukses Gelar Ta'lim Edutainment Islami Bertajuk 'Metamorfosa Akhlaq'

gomuslim.co.id- Rumah Ilmu Al Hilya (Rumil) bersama Komunitas Terang Jakarta menyelenggarakan Ta’lim Edutainment Islami bertajuk ‘Metamorfosa Akhlaq’ yang diselenggarakan di Ballroom Menara Andalucia, Jakarta pada, Minggu (19/03/2017).

Rumil Al Hilya adalah wadah dan komunitas ta’lim Muslimah yang sudah berdiri sejak 5 tahun silam. Di mana para jamaah menuntut ilmu agama yang syar’i dengan ustadz-ustadz terbaik dan terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menambah ilmu pengetahuan di bidang agama.

Sedangkan ‘Metamorfosa Akhlaq’ menjadi event akbar pertama Rumil. Pada ta’lim kali ini hadir tiga pembicara yang menginspirasi di antaranya; ustadz Abi Makki, Kang Rashied, dan Dr. Aisyah Dahlan.

Nama ‘Metamofosa Akhlaq’ menjadi tema pada diskusi kali ini karena memiliki nilai-nilai yang membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Pada sesi pertama, kang Rashied menjelaskan mengenai metamorfosa yang diartikan sebagai perubahan menjadi lebih baik. Jika diibaratkan siklus ulat menjadi  kupu-kupu metamorfosis adalah perubahan dari maksiat menjadi taat. Tentunya dalam menempuh siklus metamorfosis diperlukan ketaatan. “Hidup tanpa ketaqwaan akan berat, ketaqwaan berawal dari akhlak yang baik,” ujar kang Rashied.

Sedangkan dalam menuju ketaqwaan, Allah SWT memberikan empat ujian, yakni; Musibah, Nikmat, Maksiat dan Taat. “Oleh karenanya ketika Allah menghadapkan manusia pada ujian hendaklah tetap bersabar,” pungkasnya.

Kemudian pada sesi kedua Dr. Aisyah Dahlan yang merupakan pakar pengelola emosi dan pendiri komunitas Sahabat Rekan Sebaya juga turut membawakan materi mengenai manajemen emosi. Dalam pemaparannya Dr. Aisyah menyampaikan bahwa mengolah emosi dapat dilakukan dengan membaca kalimat istighfar dan lafadz Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim. “Dalam lafadz Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim terdapat 7 huruf jaham, di mana ketika kita mengucapkan kalimat tersebut ada energi negatif yang terbuang sehingga tubuh menjadi lebih rileks,” papar Dr. Aisyah.

Dalam pemaparannya terdapat 9 level emosi yang ada pada diri manusia. Level emosi negatif tersebut meliputi; Apatis, Sedih, Takut, Buru-Buru, Marah dan Sombong. Kesembilan level emosi tersebut dapat dikendalikan dengan mengucapkan istighfar dan lafadz Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim. Sedangkan pada emosi positif terdapat 3 level, di antaranya; Semangat, Menerima, dan Damai. Emosi positif yang demikian juga wajib dimanajemen dengan baik dengan membaca istighfar dan lafadz Lahaula Wala Quwata Illa Billahil Aliyil Adzim. Hal ini guna menjauhkan diri dari sifat Manik, sifat yang berada di atas level Damai dimana perasaan senang yang berlebihan terjadi pada diri seseorang.

Selanjutnya, pada 9 level emosi tersebut terdapat klasifikasi antara lain Nafu Lawamah, Amanah, dan Mutmainah (zona ikhlas). “Nafsu Mutmainah lah yang harus ada pada hati dan diri manusia. Karena nafsu ini mengajarkan manusia menjadi insan yang bersyukur, ikhlas, semangat dan ada pada kedamaian hati yang bersih, sehingga mapu merubah akhlaq terpuji.

Pada sesi terakhir kajian ditutup oleh materi dari ustadz Abi Makki mengenai betapa pentingnya akhlak. Rasulullah SAW datang ke dunia untuk menyempurnakan akhlaq manusia, dan mereka yang paling baik akhlaqnya adalah orang-orang yang akan menjadi penghuni syurga. “Akhlaq adalah tabiat, kebiasaaan yang berasal dari emosi, oleh karena itu sebagai manusia wajib mengontrol emosinya agar menjadi pribadi yang berakhlakul karimah,” tukasnya.

Berakhlakuk karimah juga tak hanya kepada Allah SWT dan orang tua namun kepada sesama manusia dan makluk lainnya, seperti binatang dan alam semesta, hendaklah manusia berakhlak yang baik.

Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan manusia memiliki akhlaq yang baik, salah satu akhlak kepada manusia adalah dengan memberikan tempat duduk kepada orang lain. “Itu merupakan sebagian kecil akhlaq baik,” tukas ustadz Abi Makki.

Kemudian ketiga akhlak yang wajib diterapkan adalah akhlak kepada Allah agar menaati segala larangan dan perintahnya, akhlak kepada Rasulullah SAW dengan cara menjalankan sunah-sunahnya, akhlak kepada orang tua bahagiakan hatinya, dan akhlak kepada binatang, dan alam semesta dengan menjaga dan melestarikannya.

“Lantas dengan cara apa akhlaq dapat dilatih? yakni dengan beribadah. Salah satunya dengan shalat di awal waktu, karena shalat dapat merubah akhlaq manusia menjadi lebih baik, inilah wujud dari implementasi metamorfosa akhlaq,” tutup ustadz Abi Makki. (nat)

 


Back to Top