Kampanye Perdamaian, Muslimah AS Ini Buat Situs 'Muslims Condemn'

gomuslim.co.id- Islam adalah agama terbesar di dunia. Perkembangan Islam begitu pesat di beberapa Negara. Bahkan, dalam sebuah laporan mengatakan saat ini ada sekitar 1,6 miliar pemeluk agama Islam di seluruh dunia. Meski demikian, fenomena Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) kini masih terjadi di Barat.

Menanggapi hal tersebut, baru-baru ini muslimah cantik di Amerika Serikat (AS) bernama Heraa Hashmi (19) membuat situs pembelaan terhadap Islam yaitu www.Muslimscondemn.com. Mahasiswi University of Colorado ini berjuang untuk membuktikan bahwa umat Islam pun mengutuk segala bentuk teror.

Dengan memanfaatkan Google spreadsheets, dia membuat 712 daftar halaman tentang Muslim mengecam terorisme. Ia juga mencantumkan sumber tulisan tersebut. Ia menyebarkan hal tersebut melalui Twitternya. Daftar kecaman Muslim itu termasuk kecaman terorisme 9/11. ”Saya ingin menunjukkan kepada orang betapa lemahnya argumen (bahwa umat Islam tidak peduli tentang terorisme),” katanya sebagaimana dilansir dari publikasi Guardian, Selasa (28/03/2017).

Upayanya mendapat respons luar biasa. Dalam waktu 24 jam, tweet Hashmi ini telah retweeted  15.000 kali. Beberapa follower-nya menawarkan diri untuk membantunya mengubah spreadsheet ke dalam website interaktif. Dalam waktu seminggu setelah dia menuliskan tweet tersebut, situs muslimscondemn.com pun hadir.

Proyek Hashmi ini tidak hanya dirancang untuk membuktikan bahwa umat Islam selalu mengutuk terorisme. Dia juga ingin menunjukkan betapa konyolnya jika umat Islam selalu diharapkan untuk minta maaf untuk aksi teroris yang mengatasnamakan Islam.

“Untuk standar yang berbeda dari kelompok minoritas lainnya; 1,6 miliar orang diperkirakan akan meminta maaf dan mengutuk (terorisme) atas nama beberapa lusin orang gila. Tidak masuk akal,” ujarnya.

Heraa Hashmi tidak setuju kalau para teroris itu disama-samakan dengan Muslim lainnya. “Aku tak melihat KKK (Ku Klux Klan, kelompok rasis supremasi putih di Amerika) atau Gereja Baptis Westboro atau Tentara Perlawanan Tuhan sebagai representasi Kekristenan. Aku tahu mereka bagian pinggir. Jadi, sangat frustrasi sekali harus membela diri dan meminta maaf atas nama orang-orang gila,” ungkap Hashmi.

Istilah “Teroris Tak Punya Agama” memang semakin gencar digaungkan. Agar menghindarkan stereotip-stereotip negatif pada pemeluk agama tertentu yang akhirnya mendapat tekanan dari masyarakat sekitar. Tapi menurut Hashmi propaganda menyebar omongan begitu saja tak cukup. Orang-orang selain Islam, terutama mereka yang mendiskriminasi, harus tahu benar-benar kalau para teroris itu berbeda dengan Muslim.

Hashmi menilai kebanyakan orang masih tak tahu kalau Muslim juga mengecam terorisme. Pernyataan itu sekaligus pembenaran kalau orang-orang masih belum bisa memisahkan perilaku antara terorisme dan Islam.

Kampanye Hashmi ini adalah bagian dari upaya melepas stereotip agama pada perilaku terorisme. Terutama Islam yang jadi minoritas di dunia Barat. Standar ganda yang berlaku pada Islam benar-benar harus dilepas, sebab dampak dari stigma tersebut bukan lagi hitungan sepele. (njs/guardian/dbs)

 


Back to Top