Pelajari Kehidupan Muslim di Luar Negeri, Ulama Jawa Timur Siap Berangkat ke Negeri Tirai Bambu

gomuslim.co.id- Tiongkok merupakan salah satu Negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia. Sebagian dari populasi besar ini adalah muslim. Islam berkembang cukup pesat di negara berjuluk Negeri Tirai Bambu ini. Bahkan, Laksamana Cheng Ho, tokoh muslim asal Tiongkok, mempunyai jasa yang besar terhadap perkembangan Islam di Tanah Air.

Baru-baru ini, 18 ulama Jawa Timur berencana melakukan studi banding tentang kehidupan muslim di Tiongkok. Mereka berangkat bersama Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya dengan donatur Heru Budihartono. Mereka terdiri atas perwakilan pejabat MUI Jatim, Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU), dan perwakilan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo.

Menurut Heru, para tokoh Islam di Jawa Timur ini perlu melihat kehidupan umat muslim Tiongkok. Di sana terdapat 20 juta muslim yang hidup di antara 1,3 miliar lebih penduduk. Meskipun minoritas, umat muslim Tiongkok ada sejak lama.

”Banyak leluhur kita yang muslim kok. Keberangkatan ini bertujuan agar hubungan muslim Tiongkok dan Indonesia terjalin erat,” ujarnya.

Terkait hal yang sama, Ketua MUI Jatim Abdusshomad Buchori menerangkan perjalanan tersebut bukan sekadar jalan-jalan. Salah satu tujuan utamanya ialah menjalin hubungan dengan sistem pelabelan halal pada makanan. ”Karena kita mengimpor banyak barang dari Tiongkok,” jelasnya.

Peserta juga akan mengunjungi sejumlah masjid di Tiongkok. Di antaranya, Masjid Niujie, masjid tertua di Beijing. Selain itu, Masjid Madian yang dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Qing lebih dari 300 tahun lalu. Setelah dari Beijing, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linxia, Lanzhou, Xian, dan Xiamen.

Konjen Tiongkok untuk Surabaya Gu Jingqi menerangkan, saat ini sudah banyak restoran halal di Tiongkok. Karena itu, para ulama yang diberangkatkan tidak perlu khawatir soal makanan. ”Banyak restoran halal di sana,” tuturnya.

Selain itu, Gu Jingqi merasa bahwa masyarakat Tiongkok memiliki kultur yang tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Di sana perbedaan sangat dihargai. Warga bebas memeluk agama apa pun.

Para peserta rencananya berangkat Kamis (06/04/2017). Mereka diminta bersiap-siap untuk perjalanan selama sepuluh hari. Cuaca di Tiongkok sedang dingin. Saat siang, suhu mencapai 22 derajat Celsius, sedangkan saat malam turun hingga 10 derajat Celsius. ”Pokoknya jangan lupa. Bisa kademen (kedinginan) di sana nanti,” ujar Djono Antowijono, ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, yang turut berangkat mendampingi.

Sebelumnya, Pengurus Dewan Masjid Indonesia, Heri Sucipto dan rombongan, baru saja melakukan kunjungan ke Tiongkok selama sepekan lebih. Di sana, ia mengenal banyak hal mulai dari kultur hingga perkembangan Islam di sana.

"Saya berkunjung ke Masjid Xiao Tao Yuan di Kota Shanghai Jumat pekan lalu. Saya salat Jumat di sana dan bertemu dengan imam masjid Syekh Chien Musa," ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurut Heri, umat muslim di sana sangat harmoni dalam menjalani kehidupan antarumat beragama. Muslim menjadi minoritas di Tiongkok, tetapi kegiatan ibadah di sana tidak pernah mendapat gangguan dari pihak manapun.

Hingga kini, sedikitnya ada 40 ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah China. Bahkan, hingga kini masih ada pembangunan masjid-masjid baru di daratan China. "Masyarakat Islam setempat secara swadya melakukan pembangunan masjid-masjid tersebut," ungkapnya. (njs/dbs)


Back to Top