Malala Yousafzai Jadi Utusan Perdamaian PBB untuk Wakili Anak Muda

gomuslim.co.id- Malala Yousafzai gadis termuda peraih Hadiah Nobel Perdamaian akan menjadi sosok termuda yang diangkat sebagai Utusan Perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa.
 
Dirinya akan dilantik pada Senin (11/04/2017) oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan menjalankan peran untuk membantu memajukan pendidikan anak-anak perempuan di seluruh dunia. 
 
Aktivis pendidikan berusia 19 tahun asal Pakistan itu muncul sebagai sosok yang menonjol ketika seorang pria bersenjata Taliban menembak kepalanya di bus sekolah pada 2012 sebagai hukuman karena Malala mendorong para perempuan untuk bersekolah yang bertentangan dengan aturan kelompok militan terkait pendidikan bagi perempuan. 
 
Sejak kejadaian itu, Malala terus berkampanye di tingkat dunia dan pada 2014 ia menjadi sosok termuda peraih Hadiah Nobel Perdamaian. 
 
"Bahkan ketika menghadapi bahaya yang mengerikan, Malala Yousafzai telah menunjukkan komitmennya yang tak tergoyahkan bagi hak-hak wanita, anak-anak perempuan dan semua orang," ujar Guterres, seperti yang dilansir dari publikasi Thomson Reuters Foundation. 
 
Sumbangsihnya yang penuh keberanian itu mampu menginspirasi dan memajukan pendidikan bagi anak-anak perempuan. Ia telah menyemangati begitu banyak orang di seluruh dunia. “Sekarang sebagai Utusan Perdamaian PBB kami yang termuda, Malala bisa berbuat lebih banyak untuk membantu menciptakan dunia yang lebih adil dan damai,” kata Guterres.
 
Sejak dirinya bersekolah di Inggris dan mendapatkan perawatan medis di negara tersebut, dirinya telah mendirikan Yayasan Malala Fund untuk mendukung proyek-proyek pendidikan bagi anak-anak perempuan di negara-negara berkembang. 
 
Malala kerap menjadi pembicara di panggung global dan telah mengunjungi tempat-tempat penampungan pengungsi di Rwanda dan Kenya bulan Juli tahun lalu untuk menyoroti penderitaan yang dialami anak-anak perempuan pengungsi dari Burundi dan Somalia. 
 
Dia lahir dari keluarga bersuku Pusthundan menganut Islam Sunni. Namanya diambil dari penyair dan pejuang wanita suku Pasthun, Malalai dari Maiwand. Dibesarkan di Mingora, bersama dua adik laki-lakinya.Keberaniannya dalam menulis berkat bimbingan ayahnya yang juga penyair, pemilik sekolah, sekaligus aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal Public School. Meskipun Malala mengaku ingin jadi dokter, Ayahnya mendorongnya untuk menjadi politisi.
 
Ia mulai berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan pada tahun 2008. "Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!" adalah seruan pertamanya di depan televisi dan radio. 
 
Kemudian pada tanggal 12 Juli 2013, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 16, Malala berpidato di depan Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Pidatonya memuat tiga isu penting, yaitu hak perempuan, perlawanan terhadap terorismedan kebodohan. PBB juga mendeklarasikan hari tersebut sebagai hari Malala.
 
Pada bulan Oktober 2014, dirinya bersama Kailash Satyarthi mendapatkan hadiah Nobel untuk bidang perdamaian 2014 untuk perjuangan mereka melawan penindasan anak-anak dan pemuda serta untuk mendapatkan hak pendidikan bagi mereka. Malala menjadi penerima hadiah Nobel termuda, karena dia mendapatkan hadiah ini pada usia 17 tahun. (nat/thomsonreutersfoundation/dbs)
 
 
 
 

Back to Top